:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/20251201-Gelondongan-kayu-hanyut-di-banjir-Sumut.jpg)
Repelita - Bencana banjir bandang dan tanah longsor di beberapa wilayah Sumatera menyisakan fenomena mengapungnya ribuan kayu gelondongan.
Kayu-kayu dalam jumlah besar tersebut terbawa arus deras saat banjir melanda Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Keberadaan kayu gelondongan itu diduga kuat berkaitan dengan aktivitas pembalakan liar atau penebangan hutan secara tidak prosedural.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian berjanji akan mengumpulkan data resmi dan melakukan investigasi mendalam terkait fenomena tersebut.
Dalam konferensi pers di Jakarta pada Senin 1 Desember 2025, dia menyatakan belum dapat memastikan sumber dan penyebab kayu-kayu tersebut.
Informasi yang berkembang di masyarakat ada yang menyebutkan sebagai hasil pembalakan liar namun ada juga yang mengindikasikan kayu lapuk.
Sebagai mantan Kepala Kepolisian Republik Indonesia, dia menegaskan pentingnya data resmi sebelum mengambil kesimpulan tertentu.
Saat ini pemerintah masih memfokuskan upaya bantuan kemanusiaan melalui udara dan membuka akses ke daerah-daerah terisolasi.
Presiden Prabowo Subianto telah bertolak langsung ke wilayah-wilayah yang terdampak bencana untuk memantau situasi di lapangan.
Kunjungan presiden dilakukan ke Sumatera Barat dan Aceh guna memastikan penanganan bencana berjalan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Anggota Komisi IV DPR RI Daniel Johan mendorong pemerintah segera membentuk tim investigasi khusus untuk menelusuri asal usul kayu gelondongan.
Tim tersebut diperlukan untuk menjawab pertanyaan mendasar mengenai sumber kayu dan alasan mengapa bisa hanyut saat bencana terjadi.
Penyelidikan juga harus mengungkap apakah ada pelanggaran aturan kehutanan atau praktik penebangan liar di balik fenomena ini.
Identifikasi pelaku yang bertanggung jawab menjadi hal penting yang harus diungkap melalui proses investigasi yang transparan.
Pembentukan tim investigasi dinilai akan memberikan dampak positif bagi kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
Masyarakat akan merasa lebih legahati jika pemerintah menunjukkan keseriusan dalam mengungkap fakta sebenarnya di balik fenomena ini.
Kejelasan mengenai asal usul kayu gelondongan juga dapat menjadi bahan evaluasi pengelolaan hutan di wilayah tersebut.
Pemerintah daerah dan instansi terkait diharapkan dapat berkoordinasi dengan baik dalam proses penyelidikan ini.
Data dan informasi dari masyarakat setempat dapat menjadi masukan berharga bagi tim investigasi yang akan dibentuk.
Penyelesaian kasus ini diharapkan dapat memberikan efek jera bagi pihak-pihak yang melakukan pelanggaran di sektor kehutanan.
Pengawasan terhadap aktivitas kehutanan perlu ditingkatkan untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.
Pemerintah pusat dan daerah harus bersinergi dalam melakukan pemantauan dan penertiban terhadap praktik penebangan hutan.
Masyarakat sekitar hutan juga perlu dilibatkan dalam upaya menjaga kelestarian hutan sebagai bagian dari ekosistem penting.
Penanganan bencana dan penyelidikan fenomena kayu gelondongan harus berjalan beriringan tanpa mengabaikan aspek kemanusiaan.
Korban bencana tetap menjadi prioritas utama sementara proses hukum berjalan sesuai dengan mekanisme yang berlaku.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

