Repelita Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional menetapkan pembentukan Task Force Penanggulangan Bencana sebagai langkah cepat untuk membantu penanganan banjir serta tanah longsor yang melanda berbagai wilayah di Sumatra Utara dan Aceh.
Gugus tugas tersebut disusun untuk memberikan dukungan berbasis penelitian dan teknologi sehingga proses penanganan darurat hingga pemulihan di daerah terdampak dapat berjalan lebih terarah.
Ketua Task Force BRIN, Joko Widodo, menyampaikan bahwa lembaganya memobilisasi seluruh sumber daya riset agar manfaatnya langsung dirasakan masyarakat di kawasan terdampak bencana.
Ia menuturkan bahwa Task Force menyiapkan aktivasi unit reaksi cepat yang mencakup pemetaan satelit, penyediaan air bersih dan air minum, serta dukungan kesehatan dan layanan psikososial di lapangan.
Tim pengolah data satelit BRIN sejak awal kejadian memanfaatkan citra radar Sentinel-1 untuk membaca kondisi banjir secara real time, termasuk daerah tergenang di Aceh dan Sumatra Utara, dan hasilnya kemudian dibagikan kepada pemerintah daerah, BNPB, serta komunitas geospasial sebagai rujukan penanganan.
BRIN juga menekankan bahwa penyediaan air bersih menjadi prioritas tambahan, dan unit Air Siap Minum kini tengah menjalani pemeriksaan agar dapat dikerahkan dalam operasi tanggap darurat.
Di sisi lain, BNPB melaporkan jumlah korban meninggal akibat banjir dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat mencapai 442 jiwa hingga Senin 1 Desember 2025, sementara 402 orang tercatat masih hilang.
Kepala BNPB Suharyanto menyatakan bahwa percepatan penanganan warga dan pemulihan infrastruktur menjadi tahapan yang kini diprioritaskan pemerintah di tengah situasi bencana hidrometeorologi yang masih berlangsung.
Universitas Andalas turut melakukan penelitian mengenai pola Siklon Tropis yang muncul tidak lazim di sekitar Sumatra Barat, bekerja sama dengan peneliti dari Polandia, Brunei Darussalam, dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika yang memasok data teknis.
Ketua LPPM UNAND, Marzuki, menjelaskan bahwa secara teoritis pembentukan siklon di wilayah khatulistiwa sangat jarang karena gaya coriolis yang nyaris tidak ada, tetapi fenomena yang terjadi saat ini menunjukkan pola berbeda dengan kemunculan siklon di area sempit seperti Selat Malaka.
Ia juga menegaskan bahwa dampak kerusakan yang besar tidak disebabkan cuaca semata, melainkan dipicu pula oleh kerusakan lingkungan yang sudah terjadi lama sehingga memperparah banjir dan keruntuhan infrastruktur.
Menurutnya, sungai memiliki jalur alami yang ketika berubah akibat aktivitas manusia dapat memperbesar risiko bencana sehingga fenomena hidrometeorologi yang terjadi bukan hanya dipicu atmosfer tetapi juga kondisi lingkungan yang terganggu.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

