
Repelita Jakarta - Pengamat politik dari Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago menyatakan bahwa banjir bandang dan longsor di Sumatra bukan semata bencana alam, melainkan bencana akibat ketidakmampuan dan ketidakpekaan para pejabat tinggi di lingkaran kekuasaan.
Bencana Sumatra ini kan bukan bencana alam, tapi bencana pejabat.
Menurut Pangi, respons pemerintah terlambat karena informasi lapangan tidak sampai utuh kepada Presiden Prabowo Subianto akibat penyaringan yang dilakukan para menteri dan pembantu yang tidak kompeten.
Rangkaian blunder komunikasi berulang kali dilakukan oleh para menteri, menciptakan jurang informasi antara presiden dan realitas di lapangan.
Netizen otaknya di atas rata-rata, pejabat kita di bawah rata-rata.
Pangi menilai kesalahan data, pernyataan tidak empatik, hingga tindakan tidak relevan seperti mengirim alat olahraga ke lokasi bencana telah menyakiti hati rakyat yang sedang berduka.
Anda sudah menyakitkan hati rakyat.
Ia menegaskan bahwa para menteri warisan era Jokowi yang kini masih bertahan di kabinet Merah Putih menjadi beban berat bagi citra Presiden Prabowo.
Lama-lama ini akan menggerus elektabilitas Prabowo, citra Prabowo.
Pangi menggambarkan Presiden seperti diisolasi oleh lingkaran dalam yang bermasalah sehingga keputusan strategis menjadi terlambat, sementara korban terus menderita.
Ketika Presiden terisolasi, ada inner circle yang bermasalah di situ.
Pejabat era Jokowi ini sudah nggak nir empati.
Masyarakat kini lebih percaya pada inisiatif sipil dan influencer yang mampu menggalang miliaran rupiah dalam sehari ketimbang saluran resmi pemerintah.
Kepercayaan publik itu nggak mudah. Satu kali hilang, sulit dipulihkan.
Untuk memulihkan kepercayaan, Pangi menyarankan Presiden Prabowo mengambil tindakan tegas dengan mencopot semua menteri yang terbukti melakukan kesalahan fatal.
Empati Prabowo itu nggak ada, kecuali dia berhentikan semua menteri yang terkait.
Pangi menutup pernyataannya pada Jumat, 12 Desember 2025, dengan mengingatkan bahwa komunikasi yang salah dan sikap tidak peka telah menciptakan bencana kedua yang lebih berbahaya daripada bencana alam itu sendiri.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

