
Repelita Solo - Rumah Sakit Kardiologi Emirates–Indonesia (RS KEI) yang baru diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada 19 November 2025 menjadi pusat unggulan penanganan penyakit jantung di Jawa Tengah dan sekitarnya.
RS KEI merupakan hibah penuh dari Pemerintah Uni Emirat Arab senilai sekitar Rp417 miliar yang dibangun sejak 2023 hingga 2025.
Fasilitas ini dikelola Kementerian Kesehatan RI dengan dukungan operasional dari RSUP Dr Sardjito Yogyakarta pada tahap awal.
Status dan Kapasitas
- Pemilik: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
- Kelas rumah sakit: Kelas A
- Kapasitas tempat tidur tahap 1: 100 unit
- Rencana ekspansi tahap 2: 130 unit
Rincian Tempat Tidur Tahap 1
- Kamar VVIP: 1 unit
- Kamar VIP: 3 unit
- Rawat inap biasa: 65 unit
- Cardiac Unit: 7 unit
- KRIS (Kelas Rawat Inap Standar): 9 unit
- ICU/ICVCU: 9 unit
- Ruang isolasi: 6 unit
Fasilitas dan Layanan Utama
- Cathlab: 1 ruang
- Operating Theater: 2 ruang biasa + 1 ruang hybrid
- Poliklinik jantung lengkap dengan penunjang (Echo, TMT, Holter)
- Layanan endoskopi dan bronkoskopi
- Instalasi Gawat Darurat (IGD) beserta ambulans
- Rawat inap reguler dan unit intensif
- Radiologi canggih (MSCT 128 slice, MRI 1.5 Tesla, USG, X-Ray digital)
- Laboratorium kateterisasi, farmasi, dan nutrisi
- Pusat rehabilitasi jantung medis
Profil Gedung
- Luas lahan: 17.962 m²
- Luas bangunan: Sekitar 10.668 m²
- Tinggi gedung: 17,9 meter
- Jumlah lantai: 4 lantai (termasuk dasar)
- Lantai dasar: IGD, poliklinik, radiologi, farmasi
- Lantai 1: Rawat inap dan CCU
- Lantai 2: Ruang operasi, cathlab, ICU/ICVCU, rawat inap, rehabilitasi
- Lantai 3: Area manajemen dan instalasi mekanikal elektrikal plambing
Sumber Daya Manusia Tahap 1
- Total SDM: 114 orang (kombinasi RS KEI dan bantuan RS Sardjito)
- Dokter spesialis jantung: 16 orang (2 dari RS KEI, 14 dari RS Sardjito dengan subspesialis intervensi, imaging, vaskular, aritmia)
- Dokter umum dan spesialis lain: 43 orang
- Tenaga kesehatan pendukung: 55 orang (termasuk 26 perawat, 4 radiografer, 3 fisikawan medis, 4 analis laboratorium, dan lainnya)
Tahapan Operasional 2025
- Poliklinik jantung serta penunjang: Sudah aktif penuh
- IGD, rawat inap, dan radiologi: Sudah aktif penuh
- Layanan sub-spesialis jantung (by appointment): Sudah aktif
- Cathlab serta operasi jantung terbuka: Akan aktif pada tahap 2
Kebutuhan Operasional
- Biaya tahunan: Sekitar Rp65 miliar
- Kebutuhan tiga tahun pertama: Sekitar Rp195 miliar (setara USD12 juta)
Update Kunjungan Pasien (Soft Launch hingga Pertengahan November 2025)
- Total pasien: 252 orang
- IGD: 2 pasien
- Rawat jalan: 70 pasien
- Kunjungan spesialis jantung: 29 pasien
- Dokter umum: 10 pasien
- Medical check-up: 10 pasien
- Rawat inap: 3 pasien
- Pemeriksaan laboratorium: 38 kasus
- Pemeriksaan radiologi: 100 kasus
Konteks Penyakit Jantung di Indonesia
- Kematian global akibat penyakit kardiovaskular: 17,9 juta jiwa (WHO 2021), diproyeksi naik menjadi 23,6 juta pada 2030
- Di Indonesia: 316.292 kematian per tahun (IHME 2023)
- Prevalensi nasional: 8,5 per 1.000 penduduk
- Prevalensi Jawa Tengah: 7,9 per 1.000 penduduk
- Biaya penanganan penyakit jantung: Rp19,2 triliun (2024)
- Waktu tunggu bedah jantung vaskular di RS rujukan nasional: Rata-rata 3 bulan
Kerja Sama Kesehatan Indonesia–Uni Emirat Arab
- Hibah pembangunan RS KEI periode 2023–2027
- Hibah tambahan untuk eliminasi TBC (alat X-ray portable, laboratorium molekuler, pelatihan SDM) – termasuk salah satu hibah terbesar Kemenkes 2024
- Rencana lanjutan melalui Komite Kerja Sama Ekonomi: Penguatan kapasitas SDM, sister hospital dengan transfer teknologi dan digitalisasi, pengembangan industri farmasi alat kesehatan, serta pertukaran kebijakan kesehatan
Editor: 91224 R-ID Elok

