Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Petani Pino Raya Ditembak Satpam Perusahaan Sawit, Susi Pudjiastuti Menangis

 Derai Air Mata Susi Pudjiastuti dan Hari Patah Hati Nasional

Repelita Bengkulu Selatan - Kekerasan berdarah kembali mewarnai konflik lahan di Pino Raya ketika lima petani setempat roboh bersimbah darah setelah ditembak oleh personel pengamanan PT Agro Bengkulu Selatan pada Senin siang 24 November 2025, memicu gelombang kecaman keras dari berbagai kalangan termasuk mantan pejabat tinggi negara.

Peristiwa bermula ketika belasan petani berusaha menghentikan alat berat perusahaan yang kembali meratakan tanaman pangan mereka untuk ketiga kalinya dalam sebulan, situasi yang langsung memicu ketegangan karena warga merasa hak hidup mereka terancam oleh ekspansi perkebunan yang terus menggerus lahan garapan sejak lebih dari satu dasawarsa silam.

Menurut keterangan saksi, tembakan pertama mengarah ke dada seorang petani bernama Buyung yang sedang berdiri paling depan, disusul tembakan bertubi-tubi yang dilepaskan sambil berlari sehingga melukai empat petani lainnya di bagian lutut, paha, rusuk, dan betis, menunjukkan pola serangan yang tidak terkendali dan membahayakan nyawa warga sipil tak bersenjata.

Dua korban dengan luka tembak paling parah langsung dilarikan ke rumah sakit rujukan provinsi karena mengalami perdarahan hebat dan risiko kerusakan organ dalam, sementara tiga korban lainnya tetap dirawat intensif di fasilitas kesehatan terdekat dengan pengawasan ketat untuk mencegah infeksi sekunder yang dapat memperburuk kondisi.

Koalisi masyarakat sipil yang terdiri atas organisasi lingkungan, lembaga bantuan hukum, dan forum warga Pino Raya segera mengeluarkan pernyataan bersama yang menuntut penegakan hukum tanpa pandang bulu terhadap pelaku penembakan serta pencabutan izin operasional perusahaan yang dianggap menjadi biang keladi konflik berkepanjangan ini.

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti turut menyampaikan rasa prihatin mendalam melalui akun media sosial pribadinya pada hari yang sama, dengan hanya menuliskan simbol kesedihan 😢 sebagai bentuk solidaritas terhadap para petani yang menjadi korban kekerasan di tengah perjuangan mempertahankan tanah leluhur.

Sejumlah organisasi mahasiswa, pemuda, dan korps alumni secara terpisah menyatakan bahwa penembakan ini merupakan pelanggaran hak asasi manusia berat yang tidak bisa ditoleransi lagi, terutama karena negara seolah membiarkan korporasi menggunakan kekerasan bersenjata untuk menyelesaikan sengketa tanah dengan rakyat kecil.

Pihak kepolisian daerah hingga kini masih melakukan olah tempat kejadian perkara dan meminta keterangan saksi, sementara tekanan publik terus mengalir agar proses hukum berjalan transparan serta tidak ada upaya perlindungan terhadap pelaku yang diduga memiliki senjata api tanpa izin resmi.

Konflik agraria Pino Raya sendiri berakar pada pemberian izin lokasi seluas hampir tiga ribu hektare kepada perusahaan sawit sejak tahun 2012, yang hingga kini belum menemui titik penyelesaian meskipun telah berulang kali dilaporkan ke berbagai instansi pemerintah baik di tingkat kabupaten maupun pusat.

Peristiwa berdarah ini kembali membuktikan bahwa pendekatan keamanan yang mengandalkan kekuatan bersenjata hanya akan memperparah ketidakadilan agraria, sementara solusi hakiki hanya akan tercapai melalui reforma agraria sejati yang mengutamakan kepentingan petani kecil di atas ekspansi korporasi besar.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved