
Repelita Jakarta - Meskipun deretan merek mobil China terus masuk ke pasar Indonesia, kepercayaan konsumen masih menjadi tantangan besar bagi produsen tersebut.
Pakar otomotif sekaligus akademisi ITB, Yannes Pasaribu, menilai masih banyak masyarakat yang meragukan kualitas mobil China, termasuk pada segmen premium, meski penjualan secara keseluruhan menunjukkan peningkatan.
Dalam persaingan dengan produsen Jepang, para produsen China menghadapi tantangan berat terkait kualitas produk dan layanan purna jual. Mobil Jepang seperti Toyota, Honda, Daihatsu, Mitsubishi, dan Suzuki memiliki jaringan servis yang luas, sehingga memudahkan pemilik mobil melakukan perawatan rutin dan penggantian suku cadang.
Sementara itu, pengalaman masa lalu menunjukkan beberapa merek China yang pernah masuk ke Indonesia tidak bertahan lama dan meninggalkan masalah bagi konsumen terkait perawatan dan kualitas kendaraan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran terutama bagi pembeli berusia di atas 50 tahun mengenai durabilitas, layanan purna jual, dan nilai jual kembali mobil China.
Yannes menekankan bahwa layanan purna jual menjadi faktor krusial bagi konsumen sebelum membeli mobil. Selain itu, harga jual kembali yang kompetitif menjadi alasan konsumen masih lebih memilih mobil Jepang. Keunggulan ini memberi rasa aman bagi pemilik mobil dan sulit ditandingi dalam waktu singkat oleh merek baru, termasuk mobil China.
Editor: 91224 R-ID Elok

