Repelita Singapura - Sepanjang tahun 2024, sebanyak lebih dari tiga ribu gerai makanan dan minuman di Singapura terpaksa menghentikan operasinya secara permanen.
Angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam kurun waktu hampir dua dekade terakhir sejak tahun 2005.
Kondisi ini menggambarkan betapa besar tekanan yang sedang menerpa industri kuliner di negara kota tersebut.
Pelaku usaha banyak yang mengeluhkan kombinasi mematikan antara lonjakan biaya operasional dan merosotnya daya beli konsumen.
Salah satu tempat yang segera menyusul adalah Wine RVLT, bar anggur natural yang sudah beroperasi hampir delapan tahun di Carpenter Street.
Gerai tersebut akan menutup pintu setelah masa sewa berakhir pada penghujung Desember mendatang.
"Kami sangat bergantung pada kebaikan hati pemilik bangunan karena kami hanya mengelola satu lokasi sehingga posisi tawar kami lemah," ungkap Ian Lim selaku direktur sekaligus pendiri Wine RVLT.
Menurut Lim, kenaikan berbagai biaya terjadi secara bertahap selama beberapa tahun belakangan sementara harga jual kepada pelanggan tetap dipertahankan agar tidak kehilangan pasar.
Akibatnya, margin keuntungan terus tergerus hingga model bisnis menjadi tidak lagi berkelanjutan.
Dalam pernyataan resmi di media sosial, tim Wine RVLT menyebut penutupan ini sebagai saat untuk melakukan introspeksi mendalam.
Mereka mempertanyakan apakah kualitas rasa telah menurun, inovasi menjadi stagnan, atau pelayanan sudah tidak lagi hangat dan tulus seperti dulu.
Meski ribuan gerai tutup, data menunjukkan ada hampir empat ribu usaha kuliner baru yang justru dibuka sepanjang tahun ini.
Hal tersebut mencerminkan tingginya minat berwirausaha di sektor ini sekaligus mempertajam tingkat persaingan.
Presiden Asosiasi Restoran Singapura Benjamin Boh menegaskan bahwa persaingan saat ini sudah sangat ketat.
Di saat yang sama, jumlah konsumen domestik yang bersedia membelanjakan uang di dalam negeri justru semakin menyusut.
Banyak warga Singapura kini lebih memilih menyeberang ke Johor Bahru, Malaysia, demi mendapatkan hidangan dengan harga jauh lebih terjangkau.
Tantangan lain yang tak kalah berat adalah mahalnya biaya sewa tempat, kelangkaan tenaga kerja, serta kebijakan Model Upah Progresif yang terus menambah beban pengeluaran.
Boh juga menekankan pentingnya faktor manusia dalam industri makanan dan minuman.
Menurutnya, teknologi memang membantu namun hanya sampai batas tertentu karena sentuhan personal tetap menjadi nilai jual utama.
Sementara itu, pakar dari Singapore University of Social Sciences, Assoc Prof Lau Kong Cheen, menilai banyak pelaku usaha terjun ke bisnis kuliner karena terlalu bersemangat ingin menjadi bos sendiri tanpa persiapan matang.
Mereka sering kali tidak memiliki strategi bisnis jangka panjang yang menguntungkan.
Lau menyarankan agar biaya sewa tidak melebihi dua puluh persen dari total pengeluaran bulanan.
Ia juga mendorong pemanfaatan otomatisasi untuk mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja serta pengembangan kanal pemasaran digital dan layanan pengantaran makanan.
Langkah-langkah efisiensi tersebut dinilai semakin krusial bagi pelaku usaha yang ingin tetap bertahan di tengah kondisi pasar yang semakin sulit.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

