Repelita Johannesburg - Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi pusat sorotan di kalangan pengguna internet setelah menyampaikan orasi berbahasa asing saat bertindak sebagai utusan Presiden Prabowo Subianto pada rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Afrika Selatan.
Orasi singkat itu menyebar luas di platform digital dan memicu berbagai reaksi, mulai dari apresiasi hingga tanggapan yang kritis.
Dalam keterangan yang dibagikan secara resmi pada Jumat, 22 November 2025, Gibran menyebutkan bahwa ia membawa pesan khusus dari Presiden Prabowo Subianto kepada seluruh perwakilan yang berkumpul di Indonesia-Africa CEO Forum.
Ia menggarisbawahi urgensi mempererat kemitraan dengan negara-negara Afrika di tengah fluktuasi perekonomian dunia.
Forum ini adalah langkah besar memperkuat hubungan dan komitmen Indonesia–Afrika. Pertumbuhan ekonomi global bukan hanya harus kuat, tetapi juga fair dan inklusif, tulis Gibran pada akun media sosial resminya pada 22 November 2025.
Gibran turut menyatakan rasa syukur atas penerimaan yang ramah dari Pemerintah Afrika Selatan terhadap rombongan Indonesia.
Ia yakin bahwa sinergi antara kawasan Asia dan Afrika akan menciptakan dampak perekonomian yang lebih seimbang dan inklusif bagi semua pihak.
Gibran kembali mengenang pertemuan Presiden Cyril Ramaphosa dengan Presiden Prabowo Subianto di Jakarta beberapa waktu lalu sebagai contoh konkret kedekatan antar pemimpin.
Pertemuan tersebut, baginya, telah memperkuat dasar kerjasama sekaligus membuka ruang bagi kebijakan inovatif yang saling menguntungkan.
Kedua Presiden sepakat untuk bebas visa masuk. Jadi, saya pikir ini kabar baik untuk kalian semua, ungkap Gibran yang segera disambut gelombang tepuk tangan dari para hadirin forum.
Cuplikan kalimat itu menjadi bagian yang paling sering dibagikan dan dibahas di dunia maya.
Rekaman orasi Gibran langsung dibanjiri tanggapan di berbagai situs, terutama X.
Sejumlah pengguna memberikan pujian karena menganggap Gibran lebih mahir berbahasa asing ketimbang ayahnya, Joko Widodo, yang kerap menjadi bahan olok-olok terkait penguasaan bahasa internasionalnya.
Lumayan English-nya, daripada sang ayah… awokawok, tulis seorang warganet.
Mendingan daripada bapaknya, komentar pengguna lain.
Tanggapan yang membandingkan seperti itu mendominasi kolom komentar dan kembali menjadikan Gibran sebagai topik hangat di kalangan publik.
Namun, ada juga kritik yang menyatakan bahwa kelancaran itu hanyalah karena membaca naskah yang telah disusun sebelumnya.
Baca teks sih, tulis seorang pengguna X.
Aman, selama nggak ada tanya jawab kan? sindir warganet lain.
Beberapa netizen juga meragukan apakah Gibran akan tetap percaya diri jika harus berimprovisasi atau menanggapi pertanyaan mendadak dalam bahasa asing.
Sejak menjabat, jabatan Wakil Presiden Gibran memang selalu disandingkan dengan pendahulunya, khususnya terkait kemampuan diplomasi, tingkat pengetahuan, dan penguasaan bahasa global.
Terlebih Gibran pernah secara jujur mengaku bukan orang yang hobi membaca, sehingga masyarakat terus memantau penampilannya di acara-acara internasional.
Orasi di Afrika Selatan ini akhirnya menjadi kesempatan baru bagi Gibran, baik sebagai bukti kemajuan kemampuannya maupun sebagai sumber kritik baru yang membuatnya kembali menjadi bahan perbincangan luas.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

