
Repelita Jakarta - Kritikus sosial Faizal Assegaf kembali menyuarakan pandangannya terkait polemik dugaan ijazah palsu mantan Presiden Joko Widodo yang memicu ketegangan dengan Dokter Tifauzia Tyassuma, dengan menekankan perlunya sikap jujur dan verifikasi fakta di tengah hiruk-pikuk opini publik.
Ia menyerukan agar kalangan intelektual dan pemikir tidak terlibat dalam siklus tuduhan tanpa bukti yang hanya memperburuk polarisasi masyarakat.
Bila dua kubu berbeda sikap dan saling mengandalkan fitnah, kebohongan, dan kemunafikan, maka jalan terbaik bagi kaum cerdas dan beriman ada di arus tengah.
Faizal Assegaf, melalui unggahan di akun X-nya @faizalassegaf pada 30 November 2025, menegaskan bahwa kalangan akademisi, peneliti, tokoh agama, serta generasi muda harus memprioritaskan proses klarifikasi dan tabayun untuk memastikan informasi yang disebarkan benar-benar akurat.
Peneliti, akademisi, kaum agamis, generasi muda cerdas selalu mengedepankan klarifikasi, verifikasi, konfirmasi, tabayun, agar kebenaran informasi dipastikan secara jujur dan benar.
Lebih lanjut, ia memperingatkan bahwa perbedaan pendapat tidak boleh menjadi pembenaran untuk menyebarkan kebencian atau fitnah, meskipun terhadap pihak yang dianggap lawan.
Sekalipun pihak yang kita anggap musuh, tidak dibenarkan menghalalkan kebohongan, kebencian dan fitnah demi memenangkan tujuan atas dasar kebencian membabi-buta.
Faizal juga menyindir mereka yang mengatasnamakan agama atau keilmuan untuk menyebarkan narasi tanpa dasar yang kuat.
Jangan pernah bertopeng agama, klaim peneliti atau akademis tapi faktanya kawanan pengusung informasi bohong tanpa konfirmasi.
Sikap kritisnya, menurut Faizal, tetap tegas terhadap semua pihak tanpa pandang bulu, termasuk Jokowi, Prabowo, maupun oposisi yang dianggap palsu.
Sampai saat ini sikap saya tegas mengoreksi siapapun, mau Jokowi, Prabowo atau kawanan oposisi abal-abal.
Ia menolak terjebak dalam pembenaran sikap munafik yang menyamar sebagai perjuangan.
Saya bertindak atas kejujuran, bukan terjebak membenarkan perilaku munafik dan kebohongan berkedok pejuang.
Faizal memprediksi bahwa strategi berbasis fitnah dan kebencian akan gagal total, meskipun menguasai banyak saluran media.
Tak peduli semua media kalian kuasai, bila fitnah dan kebencian yang kalian andalkan, jelas sangat rapuh, tidak solid dan ujungnya kelak penyesalan.
Sebelumnya, Dokter Tifauzia Tyassuma merespons tudingan Faizal yang meminta pemeriksaan rekeningnya beserta Roy Suryo dan Rismon Sianipar atas dugaan penerimaan dana terkait isu ijazah Jokowi.
Tudingan Faisal Assegaf sungguh keji dan saya pertimbangkan untuk melaporkan pencemaran nama baik.
Dalam pernyataan pers di akun X-nya @DokterTifa pada 28 November 2025, Tifauzia bersumpah tidak pernah menerima dana apapun untuk penelitian atau sikap publiknya.
Atas nama Allah saya bersumpah, tiga hari lalu saya mencermati adanya pernyataan dari Faisal Assegaf bahwa rekening kami harus diperiksa karena menerima sejumlah uang; dan menyebut bahwa perjuangan saya terkait kajian ilmiah perilaku kebohongan mantan Presiden Jokowi dibiayai atau diarahkan oleh pihak tertentu.
Dengan tenang dan penuh tanggung jawab moral saya nyatakan, klaim tersebut tidak benar!
Tidak ada satu rupiah pun dana dari siapa pun yang saya terima untuk penelitian, sikap, maupun langkah saya.
Tifauzia menjelaskan bahwa kajiannya murni berbasis ilmu epidemiologi, perilaku, neurosains, dan neuropolitika tanpa motif politik atau bantuan eksternal.
Penelitian yang saya lakukan berangkat dari disiplin ilmu Epidemiologi, Ilmu Perilaku, dan Neurosains, yang menjadi ilmu pengetahuan baru bernama Neuropolitika.
Kajian saya bukan berbasis kepentingan politik atau pembiayaan eksternal, melainkan metode ilmiah, literatur, analisis data, dan komitmen akademik.
Ia menegaskan komitmen pada integritas keilmuan yang tidak bisa dibeli atau dipengaruhi.
Kebenaran intelektual tidak dapat dibeli, dinegosiasikan, atau dititipkan. Kebenaran harus ditemukan dengan kerja, diuji dengan data, dan dipertanggungjawabkan dengan integritas.
Editor: 91224 R-ID Elok

