Ia menganalisis bahwa kelambatan dalam memberikan transparansi awal dari pihak berwenang menciptakan kekosongan informasi yang langsung dimanfaatkan oleh berbagai aktor untuk memproduksi narasi yang saling bertentangan, sehingga mempercepat penyebaran spekulasi di tengah masyarakat yang sudah terpecah belah.
Effendi menekankan bahwa pola ini adalah ciri khas komunikasi politik modern di mana ketidakpastian justru menjadi katalisator utama bagi opini yang berkembang liar, jauh melebihi kebutuhan akan fakta konkret.
Menurutnya, isu yang semula teknis kini telah bermetamorfosis menjadi representasi lebih luas dari ketidakpercayaan terhadap institusi kekuasaan, di mana setiap pihak menggunakan perdebatan untuk memperkuat basis pendukungnya masing-masing.
Dalam sesi diskusi terbuka pada 27 November 2025 melalui platform siaran langsung, ia memperingatkan bahwa simbolisasi semacam ini membuat pertumbuhan narasi tidak lagi bergantung pada bukti empiris, melainkan pada persepsi emosional yang saling menguatkan di lingkungan yang terisolasi.
Effendi menambahkan bahwa meskipun mekanisme hukum dapat memberikan kerangka resolusi formal, dampaknya terhadap opini publik akan terbatas karena pembacaan atas putusan pengadilan lebih didasarkan pada loyalitas ideologis daripada logika yuridis.
Ia menyoroti bahwa di tengah polarisasi yang ekstrem, otoritas hukum sering kali kalah oleh dinamika narasi yang berkelanjutan, di mana klaim, bantahan, dan tuduhan kriminalisasi saling tumpang tindih tanpa henti.
Effendi juga mengkritik kecepatan reaksi publik yang melebihi proses verifikasi, yang membuat setiap elemen baru seperti cuplikan video atau pernyataan singkat menjadi bahan bakar tambahan bagi konflik yang seharusnya bisa diselesaikan dengan cepat.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa akar kegaduhan ini bukan semata kurangnya informasi, melainkan kegagalan struktural dalam sistem komunikasi yang memungkinkan isu bertahan meskipun fakta telah disajikan.
Effendi memprediksi bahwa tanpa intervensi sadar dari para pemangku kepentingan untuk meredam produksi narasi, persoalan ini akan terus bergaung meskipun tanpa pengembangan substansial, karena telah tertanam sebagai bagian dari pertarungan makna yang tak kunjung usai.
Editor: 91224 R-ID Elok

