
Repelita Jakarta - Tersangka dalam kasus dugaan pencemaran nama baik terhadap Presiden ke-7 Joko Widodo, Dokter Tifauzia Tyassuma, kembali mengeluarkan pernyataan tegas di tengah kontroversi yang semakin memanas, khususnya soal pertemuan yang gagal terwujud dengan Komite Reformasi Kepolisian beberapa waktu silam.
Ia menolak keras persepsi bahwa dirinya terlibat dalam proses penyelesaian damai atau upaya rekonsiliasi apa pun.
Dalam beberapa hari terakhir, saya mengikuti berbagai narasi yang muncul di publik terkait pertemuan dengan Komite Reformasi Polri yang tidak terlaksana.
Saya ingin menegaskan bahwa sebagai akademisi, saya tidak pernah menempatkan diri dalam urusan mediasi, negosiasi, atau apa pun istilah yang sejenis.
Dokter Tifa menjelaskan bahwa ranah pengetahuan ilmiah memiliki prinsip-prinsip mutlak yang tidak boleh dikompromikan demi kepentingan lain.
Dalam dunia ilmu pengetahuan, kebenaran tidak dinegosiasikan dan tidak dimediasi, ia harus diuji, dibuktikan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Walaupun demikian, ia tetap menghargai pentingnya ruang diskusi terbuka sebagai bagian dari dinamika sosial.
Karena itu, saya tidak mempersoalkan apakah sebuah pertemuan jadi atau tidak, ruang dialog tetap saya hormati, tetapi substansi akademik yang saya perjuangkan berdiri di atas landasannya sendiri.
Dokter Tifa menyatakan rasa syukurnya atas gelombang dukungan dari masyarakat yang terus bertambah seiring waktu.
Menurutnya, masyarakat kini semakin sadar bahwa posisinya murni didasari oleh pembelaan terhadap integritas ilmu pengetahuan, bukan motif politik terselubung.
Saya bersyukur dukungan rakyat makin lama makin banyak dan terus mengalir, karena masyarakat memahami bahwa yang saya bela bukan kepentingan politik, melainkan marwah ilmu pengetahuan yang tidak boleh diperlakukan semena-mena.
Ia menegaskan bahwa sejak semula, pendekatannya selalu berpijak pada analisis rasional, data empiris, dan etika publik yang teliti.
Dengan berbicara menggunakan analisis yang jernih, terukur, dan berlandaskan data, siapa pun dapat melihat bahwa saya tidak membawa agenda kelompok mana pun.
Kekokohan sikap ini justru menjadi magnet bagi dukungan publik yang semakin meluas dari berbagai kalangan.
Keteguhan yang tenang ini justru membuat dukungan masyarakat tumbuh setiap hari, karena mereka tahu bahwa sikap saya tidak bisa diklaim oleh kekuatan apa pun.
Lebih lanjut, Dokter Tifa menyampaikan penghargaan mendalam terhadap inisiatif Presiden Prabowo Subianto dalam merevitalisasi sistem peradilan dan kepolisian menuju arah yang lebih adil dan maju.
Saya menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo yang sedang berupaya membangun institusi hukum dan kepolisian yang lebih modern dan berkeadilan.
Reformasi tidak pernah mudah, dan saya memahami tantangan besar yang beliau hadapi.
Ia menegaskan kesiapannya untuk berkontribusi melalui perspektif akademiknya jika diperlukan oleh kepentingan nasional.
Di tengah proses itu, saya akan selalu siap memberikan pandangan akademik kapan pun diperlukan, selama hal itu membawa manfaat bagi bangsa.
Dokter Tifa menutup pernyataannya dengan keyakinan bahwa menjaga martabat ilmu akan selalu didukung oleh rakyat, karena hal itu mencerminkan semangat bangsa yang haus akan kebenaran.
Dukungan moral dari masyarakat ini adalah pesan kuat bahwa bangsa Indonesia mencintai kebenaran, dan suara publik tidak pernah bisa diabaikan dalam setiap keputusan negara.
Editor: 91224 R-ID Elok

