:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/Akademisi-Tifauzia-Tyassuma-atau-Dokter-Tifa-dan-Pendiri-Presidium-Alumni-212-Faizal-Assegaf.jpg)
Repelita Jakarta - Kontroversi dugaan ijazah palsu milik mantan Presiden Joko Widodo kembali bergolak setelah aktivis Faizal Assegaf disebut menuduh adanya pihak-pihak yang memanipulasi isu tersebut, termasuk permintaannya agar rekening Roy Suryo dan rekan-rekannya dibuka untuk publik.
Dokter Tifauzia Tyassuma yang terseret dalam narasi tersebut merespons dengan tegas, menganggap tuduhan itu sebagai fitnah berat yang merusak reputasi dan berencana mengambil langkah hukum untuk pencemaran nama baik.
Tudingan Faisal Assegaf sungguh keji dan saya pertimbangkan untuk melaporkan pencemaran nama baik, tulis Tifa di akun X @DokterTifa pada Jumat 28 November 2025.
Ia mengaku kaget mendengar klaim bahwa dirinya, Roy Suryo, dan Rismon Sianipar menerima dana mengalir untuk mendukung kampanye terkait isu ijazah Jokowi.
Atas nama Allah saya bersumpah, tiga hari lalu saya mencermati adanya pernyataan dari Faisal Assegaf bahwa rekening kami harus diperiksa, sesalnya.
Menurut Tifa, tuduhan bahwa perjuangannya dibiayai oleh pihak eksternal adalah kebohongan mutlak.
Dengan tenang dan penuh tanggung jawab moral saya nyatakan, klaim tersebut tidak benar!, tegasnya.
Ia menegaskan bahwa seluruh aktivitas penelitian dan pernyataan publiknya dilakukan tanpa dukungan finansial dari siapa pun.
Tidak ada satu rupiah pun dana dari siapa pun yang saya terima untuk penelitian, sikap, maupun langkah saya, jelas Tifa.
Jika saya melangkah, itu karena saya memegang prinsip bahwa akademisi memiliki kewajiban moral untuk mencari dan menyampaikan kebenaran, tambahnya.
Lebih lanjut, Tifa menjelaskan bahwa analisisnya didasarkan pada pendekatan ilmiah murni dari bidang epidemiologi sosial-perilaku dan neurosains.
Penelitian yang saya lakukan berangkat dari disiplin ilmu Epidemiologi, Ilmu Perilaku, dan Neurosains, yang menjadi ilmu pengetahuan baru bernama Neuropolitika, imbuhnya.
Kajian saya bukan berbasis kepentingan politik atau pembiayaan eksternal, melainkan metode ilmiah, literatur, analisis data, dan komitmen akademik, sambung Tifa.
Ia menekankan bahwa integritas ilmiah tidak bisa dikompromikan oleh faktor luar apa pun.
Kebenaran intelektual tidak dapat dibeli, dinegosiasikan, atau dititipkan. Kebenaran harus ditemukan dengan kerja, diuji dengan data, dan dipertanggungjawabkan dengan integritas, tandasnya.
Tifauzia berharap diskusi publik soal isu ini dijalankan dengan etika yang tinggi dan berbasis fakta.
Saya berharap pernyataan publik tentang saya atau perjuangan yang saya jalankan dilakukan dengan tanggung jawab etis, faktual, dan tidak mendistorsi realitas, kuncinya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

