Perempuan tersebut adalah Yasika Aulia Ramadhani, putri dari Wakil Ketua DPRD Sulawesi Selatan Yasir Machmud.
Dadan menegaskan bahwa pembangunan puluhan satuan pelayanan pemenuhan gizi tersebut murni berasal dari investasi pribadi tanpa menyentuh anggaran negara sama sekali.
"Itu kan bukan uang negara, itu investasi, jadi siapapun yang mampu membangun, dipersilakan," ujar Dadan seperti dikutip pada Kamis, 20 November 2025.
Menurutnya, siapa saja yang memiliki kemampuan finansial boleh ikut berkontribusi membangun fasilitas program tersebut.
Polemik ini mencuat karena aturan internal Badan Gizi Nasional membatasi satu yayasan hanya boleh mengelola maksimal sepuluh unit dapur saja.
Pendiri Watchdoc Dandhy Laksono ikut mengkritik keras melalui media sosial dengan menyebut program tersebut sebagai strategi investasi politik Prabowo Subianto dan jaringannya.
"MBG investasi elektoral Prabowo dan mesin politiknya," tulis Dandhy.
"Gak ada hubungannya dengan perbaikan gizi dan kualitas SDM," tambahnya.
Dandhy menilai narasi perbaikan gizi serta peningkatan kualitas sumber daya manusia hanyalah kedok belaka dari kepentingan elektoral jangka panjang.
Editor: 91224 R-ID Elok

