
Repelita Jakarta - Polemik sumber air minum dalam kemasan merek Aqua yang bermula dari perdebatan di Komisi VII DPR kini mendapat sorotan tajam dari kalangan pakar komunikasi.
Para ahli menilai ada jurang lebar antara citra air pegunungan yang selama puluhan tahun dibangun melalui iklan dengan kenyataan pengambilan air melalui pengeboran sumur dalam dari lapisan akuifer.
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Algooth Putranto menegaskan bahwa visualisasi iklan telah menciptakan persepsi kuat di benak konsumen.
"Padahal, air itu dipompa dari akuifer (lapisan batuan di bawah tanah) dengan metode pengeboran. Ini adalah persoalan kejelasan komunikasi," ujar Algooth.
Peneliti strategi komunikasi dari LSPR Institute Safaruddin Husada menambahkan bahwa prinsip dasar komunikasi merek harus berpijak pada kebenaran yang disampaikan secara terbuka.
"Publik perlu mengetahui bahwa air itu memang bersumber dari akuifer pegunungan yang terlindungi. Celah persepsi inilah yang berpotensi menimbulkan kebingungan konsumen," jelas Safaruddin.
Selain sumber air, inkonsistensi komunikasi Aqua juga terlihat pada kasus kandungan Bisfenol A dalam galon guna ulang.
Algooth Putranto mengingatkan bahwa perusahaan pernah menyatakan galon mengandung BPA tetap aman namun kemudian meluncurkan produk bebas BPA dan mengkampanyekannya secara masif.
"Perilaku komunikasi yang dianggap tidak konsisten ini berisiko mengurangi kepercayaan publik terhadap jaminan keamanan yang disampaikan perusahaan," kata Algooth.
Para pakar mendorong Danone sebagai pemilik merek untuk segera memperbaiki transparansi informasi kepada konsumen.
Mereka juga meminta Badan Pengawas Obat dan Makanan serta Kementerian Perdagangan melakukan pengawasan ketat terhadap pesan iklan yang berpotensi menyesatkan.
Langkah tersebut dinilai krusial untuk menjaga hak konsumen atas informasi yang jujur dan akurat.
Editor: 91224 R-ID Elok

