Repelita Yogyakarta - Mantan Presiden Joko Widodo menunjukkan respons yang santai ketika ditanya mengenai perkembangan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Whoosh.
Saat menghadiri rapat senat terbuka Dies Natalis ke-62 Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada pada Jumat 17 Oktober 2025, dia hanya tersenyum dan tidak memberikan komentar mendetail.
Acara yang berlangsung di kampus UGM ini menghadirkan Jokowi sebagai salah satu tamu undangan utama sekaligus alumni terkemuka fakultas tersebut.
Seorang wartawan sempat menanyakan pendapatnya mengenai keputusan pembiayaan Whoosh yang tidak lagi menggunakan anggaran APBN.
Jokowi menanggapi pertanyaan tersebut dengan gumaman singkat dan senyuman tanpa disertai penjelasan lebih lanjut.
Dia kemudian memilih untuk membalikkan badan dan melanjutkan interaksi dengan tamu undangan lainnya.
Momen ini terekam dalam video yang diunggah di kanal YouTube Official iNews pada hari yang sama.
Jokowi justru lebih banyak bercerita mengenai undangan yang diterimanya dari Dekan Fakultas Kehutanan UGM Sigit Sunarta.
Dia menjelaskan bahwa undangan tersebut diantarkan langsung oleh jajaran dekan dan dosen ke kediamannya sebulan sebelumnya.
Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Whoosh sendiri merupakan salah satu program infrastruktur strategis nasional yang dibangun selama pemerintahan Jokowi.
Kereta berkecepatan tinggi ini diresmikan pada 2 Oktober 2023 dan menjadi yang pertama di Indonesia serta kawasan Asia Tenggara.
Pengelolaan Whoosh dilakukan oleh PT Kereta Cepat Indonesia China sebagai perusahaan patungan konsorsium Indonesia dan China.
Saat ini proyek tersebut menanggung beban utang mencapai Rp116 triliun yang menjadi perhatian berbagai pihak.
PT Kereta Api Indonesia sebagai pemimpin konsorsium mencatat kerugian signifikan akibat pembiayaan proyek ini.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin bahkan menyebut besar utang Whoosh bagaikan bom waktu yang perlu penanganan serius.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa telah menolak usulan pembayaran utang Whoosh menggunakan APBN.
Dia menegaskan bahwa proyek ini sudah berada di bawah pengelolaan Badan Pengelola Investasi Danantara.
Purbaya menyatakan Danantara memiliki kemampuan untuk menangani utang tersebut tanpa campur tangan pemerintah.
Pernyataan ini disampaikan dalam Media Gathering di Bogor pada Jumat 10 Oktober 2025.
Pembiayaan proyek Whoosh sebagian besar berasal dari pinjaman China Development Bank sebesar 75 persen.
Sisanya merupakan setoran modal dari pemegang saham PT KCIC yang terdiri dari konsorsium Indonesia dan China.
Proyek ini mengalami pembengkakan biaya dari perkiraan awal sebesar 6,07 miliar dolar AS menjadi 7,2 miliar dolar AS.
Kondisi ini memberikan tekanan terhadap kinerja keuangan BUMN yang terlibat dalam konsorsium.
Whoosh tetap menjadi kebanggaan sebagai simbol modernisasi transportasi massal di Indonesia.
Integrasi dengan pengembangan kawasan transit oriented development menjadi salah satu keunggulan proyek ini.
Pemerintah terus berupaya mencari solusi terbaik untuk keberlanjutan operasional kereta cepat Whoosh.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

