Menurut Muslim Arbi, proyek tersebut sebenarnya bukan investasi, melainkan alat ekspansi yang menyandera keuangan dan kedaulatan Indonesia. Ia menambahkan, sejak awal banyak pihak menentang proyek KCIC, termasuk Jonan yang saat itu menjabat Menteri Perhubungan, yang akhirnya terpental dari jabatannya. Muslim Arbi sendiri mengaku sejak awal mengkritik proyek tersebut karena dianggap merugikan negara.
Muslim Arbi menegaskan prediksi Jonan tepat, karena tiap tahun Whoosh harus menyetor 2 triliun rupiah ke China, sementara pendapatan kotor proyek hanya 1,5 triliun rupiah. Ia menyebut proyek ini mengikat keuangan negara dan kedaulatan senilai Rp120 triliun.
Ia juga menyoroti potensi ancaman China meminta pangkalan militer di Laut Natuna jika Indonesia gagal membayar utang proyek KCIC. Muslim Arbi menyinggung Mahfud MD, mantan Menko Polhukam, agar tidak lepas tangan atas proyek yang menurutnya ugal-ugalan dan mengikuti kehendak Jokowi tanpa mendengar suara rakyat serta pakar.
Muslim Arbi menambahkan, China akan semakin keras kepala dan merongrong kawasan Laut Natuna, yang dapat mengganggu stabilitas Laut dan ASEAN, terutama jika proyek KCIC terus merugikan negara. Ia menyatakan sikap Menkeu Purbaya sudah tepat menolak tekanan Jokowi dan Luhut, dan kedua orang itu seharusnya bertanggung jawab atas kebijakan salah yang berpotensi menjadi ancaman intervensi.
Menurut Muslim Arbi, rakyat mendukung Presiden Prabowo untuk menyelamatkan keuangan dan kedaulatan negara serta memberi pelajaran bagi Jokowi dan Luhut. Ia menegaskan China harus menghormati kedaulatan Indonesia dan tidak memperdaya negara dengan dalih investasi yang hanya kedok.
Muslim Arbi menekankan, proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung dalam KCIC merupakan bentuk kolonisasi terselubung, dan rakyat menolak investasi yang berujung intervensi dengan memanfaatkan boneka-boneka selama era Joko Widodo.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

