Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Jokowi Hanya Tersenyum Saat Disinggung Utang Whoosh Rp116 Triliun, Luhut Sebut Proyek Sudah Bermasalah Sejak Awal

 Repelita Jakarta - Utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh yang mencapai Rp116 triliun kembali menjadi perhatian publik setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menolak membayarnya menggunakan anggaran negara.

Dalam perkembangan terbaru, sikap Presiden ke-7 RI Joko Widodo saat ditanya mengenai tanggungan utang proyek tersebut menjadi sorotan publik.

Saat menghadiri rapat senat terbuka Dies Natalis ke-62 Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Jumat, 17 Oktober 2025, Jokowi hanya tersenyum ketika awak media menanyakan pandangannya terkait beban utang proyek kereta cepat itu.

Dalam momen tersebut, Jokowi sempat disapa oleh sejumlah tamu dan wartawan. Salah satu jurnalis bertanya, “Pak, terkait Whoosh sekarang tidak pakai APBN, itu tanggapannya gimana, Pak?”

Jokowi hanya menjawab dengan gumaman singkat, “Hmmm?” kemudian melempar senyum tanpa menambahkan penjelasan lebih lanjut.

Ekspresi Jokowi itu dianggap publik sebagai bentuk enggan berkomentar mengenai proyek yang dulu ia perjuangkan keras.

Setelah menjawab singkat, mantan Gubernur DKI Jakarta itu berbalik badan dan melanjutkan langkahnya tanpa mengindahkan pertanyaan wartawan mengenai utang Whoosh yang kini menumpuk hingga Rp116 triliun.

Dalam kesempatan berbeda, Jokowi menjelaskan bahwa kehadirannya di UGM merupakan undangan langsung dari Dekan Fakultas Kehutanan UGM Sigit Sunarta.

“Sebulan yang lalu saya mendapatkan undangan diantar langsung oleh Pak Dekan dan jajaran dosen dari Fakultas Kehutanan ke rumah, undangan untuk datang di Dies Natalis ke-62 Fakultas Kehutanan,” ujarnya.

Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau KCJB yang kini dikenal sebagai Whoosh merupakan salah satu proyek strategis nasional yang dimulai pada masa pemerintahan Jokowi.

Whoosh digadang sebagai simbol modernisasi transportasi publik Indonesia karena mampu melaju hingga 350 kilometer per jam dan menjadi kereta cepat pertama di Asia Tenggara.

Nama Whoosh berasal dari suara laju kereta berkecepatan tinggi dan merupakan akronim dari Waktu Hemat, Operasi Optimal, Sistem Hebat.

Proyek ini dikelola oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), sebuah perusahaan patungan antara konsorsium Indonesia melalui PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dan konsorsium China melalui Beijing Yawan HSR Co. Ltd.

Porsi saham PSBI sebesar 60 persen dimiliki oleh BUMN Indonesia yang terdiri atas PT Kereta Api Indonesia (KAI), PT Wijaya Karya, PT Jasa Marga, dan PTPN VIII.

Sementara pihak China menguasai 40 persen saham melalui perusahaan konstruksi dan teknologi perkeretaapian seperti CREC dan CRRC.

Whoosh diresmikan oleh Presiden Jokowi pada 2 Oktober 2023 di Stasiun Halim, Jakarta, dan digadang sebagai tonggak baru transportasi massal yang efisien serta ramah lingkungan.

Namun kini, proyek tersebut menghadapi beban finansial besar dengan utang mencapai Rp116 triliun.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menanggung utang tersebut lewat APBN.

Menurutnya, pengelolaan proyek Whoosh kini berada di bawah Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), yang sudah memiliki manajemen serta dividen tersendiri.

“Yang jelas sekarang saya belum dihubungi tentang masalah itu, tapi KCIC di bawah Danantara kan, kalau di bawah Danantara mereka sudah punya manajemen sendiri, punya dividen sendiri,” ujar Purbaya dalam Media Gathering di Bogor, Jumat, 10 Oktober 2025.

Ia menambahkan bahwa Danantara mengantongi dividen hingga Rp80 triliun per tahun, sehingga seharusnya bisa menutup utang proyek tanpa bergantung pada dana negara.

“Jangan kita lagi, karena kan kalau enggak ya semua kita lagi termasuk dividennya. Jadi ini kan mau dipisahin swasta sama government,” kata Purbaya.

Sementara itu, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengakui bahwa proyek Whoosh sudah bermasalah sejak tahap awal.

Luhut yang kala itu menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi mengaku ikut bernegosiasi dengan pemerintah China untuk memperbaiki kesepakatan proyek.

“Saya sudah bicara dengan China karena saya yang dari awal mengerjakan itu, karena saya terima sudah busuk itu barang. Kemudian kita coba perbaikin, kita audit, BPKP, kemudian kita berunding dengan China,” ungkap Luhut dalam acara ‘1 Tahun Prabowo-Gibran’ di Jakarta, Sabtu, 18 Oktober 2025.

Ia menyebut pemerintah kini menunggu keputusan Presiden Prabowo Subianto untuk menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) yang mengatur restrukturisasi utang KCIC.

“Ya itu kan harus restrukturisasinya. Sekarang sedang dikerjakan, dari kantor saya Seto yang paham betul mengenai itu. Dan tadi pagi saya tanya, kita tinggal tunggu Keppres saja,” jelasnya.

Luhut menambahkan bahwa dirinya telah berkoordinasi dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Rosan Roeslani agar proses penyelesaian proyek tetap berlanjut.

Ia juga menegaskan bahwa APBN tidak akan digunakan kembali untuk proyek KCJB seperti yang terjadi pada masa lalu.

“Kita ribut-ribut Whoosh, Whoosh itu masalahnya apa sih? Whoosh itu tinggal restructuring saja. Siapa yang minta APBN? Enggak ada yang pernah minta APBN. Restructuring,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pemerintah kini berupaya menyelesaikan persoalan utang proyek Whoosh melalui mekanisme restrukturisasi dan negosiasi dengan kreditur asing, tanpa membebani keuangan negara.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved