
Repelita Makassar - Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi resmi menutup Dapur MBG Panakkukang 02 menyusul polemik pagu Rp6.500 per porsi dalam program Makan Bergizi Gratis.
Penutupan dapur berdampak langsung pada hilangnya pekerjaan sejumlah pekerja harian.
Ratusan siswa penerima manfaat terpaksa membawa bekal sendiri dari rumah karena distribusi MBG di sekolah terhenti.
Mitra Badan Gizi Nasional, Arifin Gassing, menilai pembatasan belanja Rp6.500 per anak tidak sesuai arahan Presiden.
Saya juga tidak mengerti kenapa harus Rp6.500. Padahal jelas petunjuk Presiden lebih besar dari itu, ujar Arifin pada 28 September 2025.
Dampak langsung penutupan dirasakan oleh pekerja dapur seperti Nurul Istiqomah yang kehilangan penghasilan sebagai pencuci ompreng.
Herlina dari tim persiapan dapur juga mengaku bingung karena tiba-tiba tidak memiliki pekerjaan lagi.
Salah seorang juru masak menyesalkan penutupan mendadak karena banyak pekerja bergantung pada kegiatan MBG sebagai sumber nafkah.
Sektor pendidikan ikut terdampak.
Kepala UPT SPF SD Negeri Tamamaung 1, Basora, menyebut distribusi MBG untuk 383 siswa sudah berhenti sejak adanya imbauan resmi dari SPPG.
Untuk sementara, pihak sekolah menginstruksikan siswa membawa bekal sendiri dari rumah.
Kalau datang kita terima, tidak datang mau bagaimana lagi. Tapi berharap ke depan lebih terarah, ucap Basora.
Ia menambahkan informasi penghentian sudah disampaikan kepada orang tua agar tidak menimbulkan kebingungan.
Basora menuturkan kejadian serupa pernah terjadi pada Agustus lalu ketika penyaluran MBG sempat berhenti dua pekan.
Kepala UPT SPF SD Negeri Karuwisi 2, Fatmasanra, membenarkan adanya penghentian sementara berdasarkan surat resmi BGN.
Ini menjadi pertanyaan publik. Mengapa ada arahan pemberhentian sementara, padahal program MBG merupakan ketentuan dari pemerintah pusat, tandasnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

