
Repelita Jakarta - Suntikan dana sebesar Rp6,65 triliun dari Danantara kepada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk mendapat kritikan tajam dari pengamat BUMN, Herry Gunawan.
Menurut Herry, langkah itu tak akan menyentuh akar masalah yang membelit Garuda.
"Itu seperti mengobati sakit jantung dengan obat sakit kulit," ucapnya.
Ia menjelaskan bahwa persoalan utama Garuda bukan terletak pada operasional, melainkan pada beban utang yang besar.
Herry menyebut arus kas dari operasi Garuda masih mencatat surplus sebesar USD162,3 juta pada kuartal I 2025.
Namun begitu beban keuangan dari utang dimasukkan, perusahaan langsung mencatat kerugian.
"Masalahnya bukan di operasional, tapi di utang dan kewajiban finansial yang menumpuk," tegas Herry saat dihubungi, Rabu.
Karena itu, ia menilai suntikan modal untuk operasional hanya bersifat sementara dan tidak menyentuh akar persoalan.
Herry juga menyoroti lemahnya kepemimpinan manajemen saat ini yang menurutnya kehilangan sense of crisis.
"Seolah-olah Garuda adalah perusahaan yang sedang menangguk laba," sindirnya.
Ia menyinggung pembengkakan biaya yang tidak berkaitan langsung dengan kegiatan penerbangan, termasuk kenaikan beban pegawai dari USD102,1 juta menjadi USD122,8 juta dalam setahun terakhir.
Ia juga menyayangkan adanya beban lain seperti biaya transportasi, jaringan, dan pelayanan penumpang yang terus meningkat.
"Sulit mempercayai bahwa Garuda sedang melakukan perbaikan," kata Herry lagi.
Menurutnya, alasan Garuda sebagai simbol kedaulatan negara hanyalah dalih yang tak relevan dengan kondisi keuangan nyata perusahaan.
"Romantisme seperti itu sudah tidak penting lagi," tegasnya.
Herry menyarankan agar manajemen berhenti berlindung di balik klaim sebagai maskapai pembawa bendera negara.
Ia juga menyoroti ketidaktepatan arah bisnis Garuda yang masih mengelola unit-unit non-inti seperti biro wisata Garuda Indonesia Holiday France, hotel, dan jasa boga Aero Wisata.
Menurutnya, bisnis semacam itu lebih tepat dikelola oleh BUMN lain seperti InJourney.
Herry meminta Danantara mengevaluasi model bisnis Garuda sebelum mengucurkan dana.
"Apakah Garuda masih perlu menjalankan semua itu, padahal ada BUMN lain yang fokus di sektor tersebut?" katanya.
Ia juga menilai bahwa Danantara tidak boleh hanya berperan sebagai pendistribusi dana antar BUMN.
Danantara diminta membuktikan bahwa suntikan modal dilakukan atas dasar evaluasi mendalam dan bukan sekadar formalitas.
Sebelumnya, Danantara melalui anak usahanya PT Danantara Asset Management berencana memberikan pinjaman pemegang saham kepada Garuda senilai Rp6,65 triliun.
Dana itu akan digunakan untuk kebutuhan pemeliharaan dan perbaikan pesawat, serta menjadi bagian dari total dukungan pendanaan senilai sekitar US$1 miliar.
COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menyatakan langkah ini merupakan bagian dari pendekatan baru dalam restrukturisasi Garuda.
Menurutnya, Garuda bukan hanya entitas bisnis tetapi simbol kedaulatan udara dan kebanggaan nasional.
Ia menegaskan bahwa pendanaan ini merupakan bentuk nyata dari mandat transformasi dengan pendekatan profesional dan akuntabel.
Dony juga menjamin bahwa setiap tahapan transformasi akan dievaluasi secara berkala untuk memastikan tujuan strategis tercapai. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok

