
Peretas Tiongkok Curi Data Sensitif Pejabat AS, FBI Sebut Sebagai Skandal Terbesar dalam Sejarah
Washington D.C., 4 Desember 2024 – Peretas asal Tiongkok semakin berani, dengan melibatkan serangan siber besar yang kini mencuri data sensitif dari perusahaan telekomunikasi terkemuka di Amerika Serikat. FBI dan CISA AS menganggap peretasan ini sebagai upaya spionase terbesar dalam sejarah.
Kelompok peretas yang dikenal dengan nama Salt Typhoon diduga bertanggung jawab atas serangan tersebut, dengan mengakses jaringan telekomunikasi AS yang rentan, serta merekam percakapan penting antara pejabat politik dan pemerintah AS selama pemilihan umum terbaru. Para penyelidik menemukan bahwa percakapan antara Presiden terpilih dan Wakil Presiden terpilih, yang mengandung informasi sangat sensitif, telah disusupi.
Menurut Ketua Komite Intelijen Senat AS, Senator Mark Warner, insiden ini jauh lebih serius dari yang diperkirakan. Warner menyatakan bahwa ancaman ini belum berakhir, mengingat kemungkinan bahwa peretas masih dapat mengakses percakapan dan pesan-pesan penting. "Kami belum menemukan di mana mereka berada," tegasnya.
Serangan ini mencakup peretasan terhadap sistem komunikasi pemerintah AS, dengan peneliti menemukan bukti bahwa para peretas memiliki akses yang cukup besar terhadap sistem tersebut. Menteri Keamanan AS juga memperingatkan bahwa serangan ini jauh lebih mengerikan dibandingkan insiden besar sebelumnya, seperti serangan yang menargetkan Colonial Pipeline dan SolarWinds.
Di sisi lain, meskipun beberapa platform pesan seperti Signal, iMessage, dan WhatsApp tetap aman, data sebagian besar tetap diekstraksi melalui jaringan lokal. FBI telah memberitahukan lebih dari 150 korban terkait pelanggaran ini, termasuk pejabat keamanan nasional dan politisi.
Menanggapi hal ini, pejabat AS seperti Brendan Carr dari Komisi Komunikasi Federal dan CEO Microsoft Satya Nadella telah berjanji untuk meningkatkan sistem keamanan. Nadella juga telah menginisiasi program bug bounty senilai $4 juta untuk mengidentifikasi potensi celah dalam sistem keamanan cloud dan AI Microsoft.
Sementara itu, otoritas Tiongkok menanggapi tuduhan ini dengan penyangkalan keras, menyebut bahwa Amerika Serikat telah menyebarkan disinformasi untuk kepentingan geopolitiknya. Namun, ahli keamanan siber meyakini bahwa ancaman ini akan menjadi fokus utama pemerintahan yang baru.(*)
Editor: Elok WA R-ID

