Berita, Nasional

Syukur Mandar Kritik Anggota DPR yang Malah Tepuk Tangan Saat Presiden Prabowo Berpidato Soal Khayalan Harga Nikel

Repelita.net

28 September 2026 21:53 WIB • 61 view

Syukur Mandar Kritik Anggota DPR yang Malah Tepuk Tangan Saat Presiden Prabowo Berpidato Soal Khayalan Harga Nikel
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Sikap para wakil rakyat di parlemen menuai kritik tajam lantaran dinilai abai dalam menjalankan fungsi pengawasan terhadap jalannya roda pemerintahan.

Kritik mendalam tersebut disampaikan secara terbuka melalui sebuah unggahan video pada kanal YouTube Bang Syukur Mandar yang disiarkan pada Senin, 28 September 2026.

ADVERTISEMENT

Dalam tayangan itu, narasumber Syukur Mandar menyoroti aksi tepuk tangan para anggota legislatif saat mendengarkan pidato kenegaraan dari Presiden Prabowo Subianto.

Ia menilai kepala negara tidak melaporkan capaian hasil kinerja yang konkret, melainkan hanya menyampaikan khayalan serta keluh kesah mengenai situasi terkini bangsa.

Salah satu poin yang dipersoalkan adalah gagasan sepihak pemerintah untuk menentukan secara sepihak harga komoditas global seperti nikel maupun emas secara mandiri.

Langkah tersebut dianggap tidak realistis dan mengabaikan hukum dagang internasional serta kepentingan pasar luar negeri selaku pihak pembeli utama hasil alam Indonesia.

Dibandingkan melontarkan narasi khayalan, presiden diminta untuk fokus memperbaiki tata kelola sumber daya alam, kontrak karya, serta mempermudah regulasi bagi para investor.

"Coba Anda perhatikan tuh wakil rakyat tepuk tangan ketika Presiden bercerita tentang apa yang terjadi di Indonesia," ujar Syukur Mandar menyatakan keprihatinannya.

Dirinya menyayangkan ketiadaan interupsi dari parlemen untuk mempertanyakan lonjakan harga kebutuhan pokok masyarakat seperti beras, telur, gas, hingga bahan pangan lainnya.

Para anggota dewan juga dikritik karena tidak bersuara kritis terhadap implementasi sejumlah kebijakan operasional seperti program MBG, Kopdes, maupun aturan terkait BOP.

Sikap pasif parlemen ini memicu pandangan miring bahwa keberadaan lembaga legislatif menjadi tidak bermakna jika seluruh urusan negara hanya diputuskan sepihak oleh presiden.

Oleh karena itu, para wakil rakyat dituntut untuk kembali pada fungsi sejatinya sebagai penyambung lidah publik yang kritis dan bukan sekadar menjadi perpanjangan tangan partai.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung