Repelita Madrid - Pemerintah Spanyol secara tegas melarang jet tempur Amerika Serikat yang terlibat dalam operasi militer ke Iran untuk melintasi wilayah udaranya, sebuah keputusan yang berpotensi menambah panjang daftar musuh Amerika Serikat di tengah perang melawan Iran.
Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares telah merilis keterangan resmi pada Senin (30/3/2026) yang mengkonfirmasi kebijakan pelarangan tersebut, termasuk bagi pesawat AS yang berpangkalan di Inggris dan Prancis untuk terbang melintasi Spanyol.
ADVERTISEMENT
“Kami tidak mengizinkan pangkalan militer atau pun wilayah udara digunakan untuk tindakan yang berkaitan dengan perang di Iran,” kata Menteri Pertahanan Spanyol Margarita Robles kepada awak media, sebagaimana dikutip Euro News.
Sebelumnya, Spanyol juga telah mengeluarkan kebijakan untuk membatasi penggunaan pangkalan militer angkatan laut di Rota dan pangkalan udara di Moron de la Frontera, yang merupakan fasilitas bersama antara Spanyol dan AS selama beberapa dekade.
Pemerintah Spanyol menilai keterlibatan dalam operasi militer tersebut berpotensi memperburuk situasi global, sehingga keputusan ini diambil sejalan dengan keinginan untuk mencegah eskalasi konflik yang lebih luas.
Menteri Ekonomi Spanyol Carlos Cuerpo menyebut operasi militer yang dipimpin AS sebagai tindakan sepihak yang melanggar hukum internasional, dan menegaskan bahwa Spanyol tidak akan berpartisipasi dalam konflik tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung.
Kebijakan ini juga mencerminkan sikap mayoritas masyarakat Spanyol yang menolak perang, serta komitmen negara tersebut terhadap prinsip-prinsip hukum internasional yang diusung oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Keputusan Madrid untuk melarang penggunaan pangkalan dan wilayah udaranya bagi operasi perang Iran bukanlah kebijakan mendadak, karena pemerintah telah sejak awal menegaskan kepada pihak militer AS bahwa fasilitas di wilayah Spanyol tidak dapat digunakan untuk operasi terkait perang tersebut.
Sebelumnya, pada awal Maret 2026, sekitar 15 pesawat tanker KC-135 AS telah meninggalkan pangkalan di Spanyol menuju pangkalan di Jerman dan Prancis setelah Madrid menyatakan penolakannya.
Spanyol juga menolak proposal AS untuk mengerahkan pesawat pengebom strategis B-1 dan B-52 di pangkalan Moron, dengan alasan bahwa tidak ada landasan hukum internasional yang membenarkan operasi tersebut.
Sikap keras Spanyol ini berdampak langsung pada hubungan diplomatik dengan Washington, di mana Presiden Donald Trump dilaporkan merespons dengan nada tinggi dan mengancam akan memutus hubungan perdagangan dengan Spanyol.
Trump bahkan menyebut Spanyol sebagai sekutu yang “sangat buruk” dan mengancam akan memutus semua perdagangan dengan negara tersebut sebagai bentuk tekanan politik dan ekonomi.
Meski demikian, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez tetap pada pendiriannya dengan menyatakan bahwa posisi pemerintahnya dapat diringkas dalam empat kata: “no to the war” atau tidak untuk perang.
Sanchez menegaskan bahwa Spanyol tidak akan terlibat dalam sesuatu yang merugikan dunia dan bertentangan dengan nilai-nilai dan kepentingan mereka, hanya karena takut akan pembalasan dari AS.
Dengan meningkatnya ketegangan antara kedua negara, situasi ini menegaskan adanya perbedaan tajam dalam pendekatan di antara sekutu Barat terkait konflik Iran, di mana Spanyol memilih jalur diplomasi dan penahanan diri sementara AS tetap mempertahankan strategi militernya.
Dari sudut pandang militer, keputusan Spanyol ini mempersulit operasi AS karena pesawat pengebom AS yang beroperasi dari pangkalan di Inggris atau Eropa lainnya harus menempuh rute yang lebih panjang dengan memutar menghindari wilayah udara Spanyol menuju Timur Tengah.
Kebijakan ini juga diperkuat oleh Menteri Pertahanan Robles yang menegaskan bahwa Spanyol tidak akan mengizinkan penggunaan pangkalannya untuk operasi pemeliharaan dan dukungan bagi perang di Iran, dengan pengecualian hanya untuk situasi darurat kemanusiaan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok