Repelita Jakarta - Peneliti Senior LIPI, Mohamad Sobary, secara terbuka membeberkan cara-cara yang digunakan Presiden ke-7 RI Joko Widodo untuk mematikan karier politik para lawannya dengan menyinggung sejumlah nama seperti Bambang Tri Mulyono hingga Ignasius Jonan.
Dalam pemaparannya, Sobary menilai bahwa Jokowi terlatih secara sistemik untuk membunuh karakter, karier, dan daya intelektual orang-orang yang berani berseberangan dengan kehendak penguasa.
ADVERTISEMENT
Pernyataan menghebohkan ini disampaikan Sobary ketika ia menjadi narasumber dalam podcast Madilog di kanal YouTube Forum Keadilan TV.
Salah satu contoh yang ia sorot dengan tajam adalah nasib Bambang Tri Mulyono, penulis buku "Jokowi Undercover", yang harus berhadapan dengan proses hukum setelah mempersoalkan keabsahan ijazah Jokowi.
"Jokowi terlatih membunuh orang. Bung Bambang Tri kan dibunuh kehidupan intelektual, kehidupan jurnalisme dibunuh itu. Dimatikan dengan cara menghukum," tegas Sobary dikutip pada Jumat, 15 Mei 2024.
Menurut Sobary, pada era pemerintahan Jokowi, segala bentuk kritik yang dianggap mengancam reputasi presiden akan dengan mudah diselesaikan melalui jalur kepolisian dengan tuduhan pencemaran nama baik.
"Segala sesuatu dihadapi dengan ringan, yang mengancam dianggaplah itu pelecehan, dianggaplah itu pencemaran nama baik. Pencemaran nama baik lalu dilaporkan polisi," lanjut Sobary mengkritik.
Ia kemudian membandingkan fenomena perlawanan terhadap Jokowi dengan lakon ketoprak klasik berjudul "Patine Gusti Allah" yang populer di era Lekra, namun kali ini ia menyebutnya sebagai lakon "Patine Jokowi".
"Ini lakon 'Patine Jokowi'. Kematian politiknya. Kematian politik, kematian pengaruh Jokowi mati oleh serangan bukan serangan, tapi oleh pertanyaan mengenai ijazah," tegas Sobary.
Sobary menilai bahwa kemunculan tokoh-tokoh seperti Dokter Tifa, Roy Suryo, hingga gerakan mahasiswa di Yogyakarta yang menggugat ijazah Jokowi merupakan kekuatan tak terduga yang membuat presiden kala itu kebingungan.
"Dua orang ini (Kanjeng dan Dokter Tifa) dilengkung tidak bisa, tapi juga tidak patah. Dia tidak getas sama sekali. Mau dilengkung ya manut dilengkung aja melengkung tapi balik lagi nglawan (melawan). Dan inilah kekuatan yang bakal membuat dia ditelanjangi," kata dia.
Tidak hanya Bambang Tri, Sobary juga menyinggung nasib Ignasius Jonan yang ia sebut "mati secara politik" karena berani memberikan pertimbangan rasional yang berseberangan dengan kebijakan pemerintah terkait proyek kereta cepat.
"Jonan mati lah politiknya. Itu patinya Jonan. Jonan mati secara politik dalam perspektif penguasa. Tapi Jonan hidup sepanjang masa dalam perspektif politik kerakyatan," kata Sobary.
Selain kedua nama tersebut, ia juga menyebut para tokoh intelektual seperti almarhum Rizal Ramli dan Faisal Basri yang semasa hidupnya kerap berseberangan secara data dan analisis dengan kebijakan pemerintah kala itu.
Bagi Sobary, kondisi pemerintahan Jokowi pada masanya sudah mencapai tahap "telanjang bulat" di mana segala bentuk pencitraan kesederhanaan tidak lagi mampu menutupi kebohongan politik.
"Sudah tidak ada penutup apapun. Tidak punya apa-apa lagi yang bisa menyembunyikan kebohongannya, yang bisa menyembunyikan pura-puranya, yang bisa menyembunyikan psikologi politiknya Jokowi," pungkas Sobary mengakhiri kritik pedasnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok