Berita, Nasional

Said Didu Tegaskan Indonesia Menuju Swasembada Pangan Kuat di Bawah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman

Repelita.net

14 May 2026 19:27 WIB • 1,294 view

Said Didu Tegaskan Indonesia Menuju Swasembada Pangan Kuat di Bawah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman
Foto: Istimewa

Repelita Surabaya - Pakar kebijakan publik sekaligus mantan Sekretaris Jenderal Kementerian BUMN Said Didu memberikan pandangan positif mengenai proyeksi ketahanan pangan nasional yang diklaim kian berada pada jalur kemandirian kuat.

Penilaian objektif tersebut disampaikannya secara langsung saat menghadiri agenda diskusi strategis bersama jajaran pimpinan Kementerian Pertanian di kawasan Romokalisari, Surabaya pada Rabu, 13 Mei 2026 kemarin.

ADVERTISEMENT

Menurut pengamatannya, keseriusan tata kelola agraria periode ini berhasil mendongkrak kesejahteraan di tingkat produsen lokal berkat masifnya stimulus penunjang masa tanam yang disalurkan oleh jajaran eksekutif pusat.

“Jangan meragukan bahwa kita sudah swasembada pangan. Faktanya memang kita sedang menuju kondisi yang kuat dan nyata. Petani sekarang happy karena hasil dan perhatian pemerintah mulai dirasakan,” kata Said Didu.

Lebih lanjut, ia menjabarkan bahwa fondasi utama untuk mencapai kedaulatan logistik yang sejati wajib ditopang oleh keberanian memutus jaringan spekulan serta mengembalikan marwah profesi sektor agraris.

Ia mengapresiasi keberanian korps kementerian yang dinilai tidak ragu menindak tegas oknum-oknum pencari keuntungan sepihak yang selama ini mengacaukan regulasi distribusi pupuk dan benih di pelosok daerah.

“Saya hormat betul. Kemandirian pangan intinya ada dua, yaitu hentikan mafia pangan dan naikkan harkat serta martabat pertanian. Dan itu sedang berlangsung sekarang dilakukan oleh Mentan Amran,” ujarnya.

Mantan birokrat kawakan ini mengimbau agar publik menghentikan perdebatan teoritis mengenai definisi pemenuhan kebutuhan pokok dan lebih mengutamakan realitas pasokan komoditas beras di pasar tradisional.

“Intinya sederhana, beras tersedia dan harga tetap terjangkau. Jangan habiskan energi pada perdebatan istilah, tetapi lihat substansi dan kondisi riil di lapangan,” katanya.

Dirinya mengoreksi carut-marut sinkronisasi data pasokan logistik antarlembaga di masa lalu yang kerap dijadikan celah manipulasi oleh para pemburu rente untuk melegitimasi kebijakan impor sepihak.

Langkah integrasi basis data tunggal di bawah kendali komando otoritas pertanian dinilai menjadi lompatan krusial untuk mengunci pergerakan mafia dan menjamin validitas estimasi cadangan beras nasional.

“Dulu data sering berbeda-beda antar lembaga dan itu membuka ruang permainan mafia pangan. Sekarang mulai diluruskan melalui komando data satu. Ini langkah penting untuk menutup celah para pemain,” ujar Said.

Ia juga menilai strategi percepatan penyerapan anggaran operasional sektor pertanian saat ini jauh lebih tepat sasaran karena langsung menyentuh pemenuhan hak-hak dasar dan jaminan proteksi nilai jual panen para petani.

“Saya baru kali ini melihat pendekatan yang benar-benar merangsang petani untuk berproduksi. Petani dijamin pendapatannya dan disiapkan sarana produksinya,” katanya.

Said memberikan contoh taktis mengenai efektivitas akselerasi intensifikasi lahan pertanian melalui optimalisasi sistem pengairan buatan yang terbukti ampuh memperpendek jeda waktu antar-musim tanam di wilayah lumbung padi.

“Menaikkan produksi pertanian tidak selalu harus menaikkan produktivitas, tetapi mempercepat musim tanam. Saya melihat program pompanisasi sekarang berjalan sangat baik untuk mempercepat tanam di berbagai daerah,” ujarnya.

Bagi dirinya, kemampuan merawat stabilitas pasokan komoditas karbohidrat utama di dalam negeri merupakan benteng pertahanan krusial bagi kedaulatan geopolitik negara dalam menghadapi ancaman resesi global.

“Kalau pangan aman, negara aman. Indonesia sejahtera dan petani tertawa,” katanya.

Ia menutup ulasannya dengan melayangkan apresiasi atas sinergi kepemimpinan nasional yang menempatkan pemenuhan kebutuhan perut rakyat sebagai agenda utama prioritas pembangunan dalam rencana kerja pemerintah.

“Saya melihat ada niat baik yang kuat untuk negeri ini, terutama di sektor pangan dan penyelamatan aset negara. Ini kebijakan nyata dan langka,” ujarnya.

Menurutnya, publik tidak perlu larut dalam kekhawatiran selama perputaran stok tetap terjaga dengan baik di gudang-gudang logistik daerah serta memberikan dampak margin ekonomi yang adil bagi para produsen di sawah.

“Sekali lagi, jangan meragukan swasembada pangan Indonesia. Faktanya sedang berjalan dan dirasakan langsung oleh petani,” tutupnya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung