Berita, Nasional

Preciosa Kanti Sebut Posisi Politik Jokowi Makin Terjepit Ditengah Polemik Ijazah dan Penolakan Gelar Adat

Repelita.net

04 August 2026 21:58 WIB • 379 view

Preciosa Kanti Sebut Posisi Politik Jokowi Makin Terjepit Ditengah Polemik Ijazah dan Penolakan Gelar Adat
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Pegiat media sosial Preciosa Kanti menilai posisi politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo saat ini semakin terdesak menyusul rentetan kontroversi yang terus menggelinding di tengah publik.

Preciosa mengungkapkan serangkaian masalah yang melibatkan nama mantan presiden tersebut, mulai dari tudingan ijazah palsu hingga silang pendapat mengenai pemberian gelar adat, perlahan mempersempit ruang gerak politiknya.

ADVERTISEMENT

Secara blak-blakan ia menyebut isu keabsahan dokumen pendidikan, dugaan praktik korupsi, serta sorotan terhadap kinerja kepemimpinannya menjadi beban berat yang menyudutkannya.

"Posisi Jokowi di dunia politik semakin tersudut," ujar Preciosa.

"Polemik ijazah palsu dan semakin terbukanya borok indikasi korupsi, dusta, dan kegagalan di jaman pemerintahannya," lanjutnya.

Pegiat media sosial ini juga menyoroti kerenggangan hubungan politik antara mantan kepala negara tersebut dengan Presiden Prabowo Subianto yang dinilainya tidak lagi harmonis.

"Belum lagi keretakan hubungan dengan Prabowo. Tangan-tangannya mulai dipatahkan satu per satu," tukasnya.

Preciosa menganalisis aksi penerimaan berbagai penganugerahan gelar adat di sejumlah wilayah merupakan bagian dari strategi merawat basis massa.

"Untuk itulah dia butuh bala riuh di belakangnya. Untuk itu pula dia harus menjadi raja di mana-mana," Preciosa menuturkan.

Upaya penggalangan dukungan tersebut dipandang untuk menciptakan tameng pelindung apabila yang bersangkutan tersandung masalah.

"Supaya jika sang raja tersakiti maka akan ada ribuan orang yang diharapkan akan merasa tersakiti juga," tambahnya.

Ia membeberkan fenomena penolakan yang bermunculan dari pemangku adat lokal terkait penyematan simbol-simbol kehormatan daerah.

"Ijazah, digugat. Gelar Baginda-Lampung, diprotes para pemuka. Gelar Raja NTT, ditolak. Hidup di atas kebohongan dan terus menerus mengakali kebenaran Jokowi," tegasnya.

Ia menyayangkan pelibatan masyarakat kalangan bawah demi kepentingan legitimasi politik pribadi.

"Mirisnya, memakai tangan rakyat sederhana untuk memvalidasi dan glorifikasi rencana. Manipulasi dan iming-iming di atas harapan rakyat kecil! Petaka negara!," kuncinya.

Sebelumnya Raja Liurai Malaka ke-15 Kerajaan Malaka Wehali Dominicus Kloit Teiseran meluruskan kekeliruan narasi mengenai pengangkatan mantan presiden tersebut di tanah Timor.

Pemimpin adat Nusa Tenggara Timur itu menegaskan bahwa penyematan yang berlangsung hanyalah sebatas bentuk penghargaan sebagai tokoh senior.

"Jadi kalau orang bilang Jokowi raja di Timor, lalu kami raja sebagai apa? di NTT sudah ada struktur Raja Adat," ucapnya.

Sebab struktur kepemimpinan adat setempat sudah berdiri kokoh dan tidak pernah menobatkan raja baru.

"Jadi Jokowi bukan diangkat jadi Raja melainkan penghargaan yang diberikan adalah Sesepuh di Timor," tambahnya. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung