Berita, Nasional

Mardigu Wowiek : Pemecatan Purbaya Tertulis di Buku Paradoks Indonesia?!!

Repelita.net

18 September 2026 23:49 WIB • 88 view

Mardigu Wowiek : Pemecatan Purbaya Tertulis di Buku Paradoks Indonesia?!!
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Dinamika politik di lingkaran pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kembali memanas menyusul keputusan mendadak mencopot Purbaya Yudhisadewa dari jabatannya sebagai Menteri Keuangan.

Langkah eksekusi kilat yang terjadi pada pertengahan September 2026 kemarin ini mengejutkan sekaligus membingungkan banyak pengamat ekonomi dan politik di tanah air.

ADVERTISEMENT

Melalui tayangan di kanal YouTube Mardigu Wowiek Official, pengamat geopolitik Mardigu Wowiek memberikan analisis mendalam terkait alasan di balik keputusan besar yang diambil oleh kepala negara tersebut.

Menurut pria yang akrab disapa Bossman Mardigu ini, tindakan tegas sang presiden sebenarnya tidak perlu membuat publik terkejut karena polanya sudah lama terpetakan.

"Kunci jawabannya sederhana apa yang terjadi dalam 2 tahun jalannya pemerintahan saat ini adalah cerminan mutlak dari apa yang beliau tulis dalam buku karyanya Paradoks Indonesia jadi seharusnya tidak ada satuun kebijakan yang membuat kita terkejut struktur kepemimpinannya berjalan persis seperti buah pikiran yang sudah beliau gagas selama bertahun-tahun," ujar Mardigu Wowiek dalam video yang diunggah pada September 2026 tersebut.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ada kegagalan mendasar dari sang mantan menteri dalam memahami peta psikologi kekuasaan yang berlaku di internal Hambalang.

Dalam situasi politik tingkat tinggi seperti sekarang, pertarungan utama di lingkaran istana bukan lagi tentang mencari siapa yang benar atau salah, melainkan menguji tingkat kesetiaan tokoh tersebut.

"Di dalam lingkaran terdalam saat ini pertempuran utama bukan lagi soal siapa yang benar atau siapa yang salah melainkan siapa yang paling loyal dialah yang akan dibela habis-habisan oleh Pak Prabowo," ungkap Mardigu Wowiek menegaskan prinsip kepemimpinan yang berjalan saat ini.

Ketegangan internal di Lapangan Banteng sendiri dilaporkan sudah memuncak beberapa hari sebelum surat keputusan pemecatan resmi dikeluarkan oleh pihak Istana Negara.

Konflik dipicu oleh keputusan radikal Purbaya Yudhisadewa yang merombak jajaran eselon dua secara sepihak, tanpa koordinasi yang matang dengan pejabat terkait lainnya.

Langkah berani tersebut langsung mendapat perlawanan frontal dari dua Direktur Jenderal paling berpengaruh di Kementerian Keuangan, yaitu Dirjen Pajak Pak Bimo dan Dirjen Bea Cukai Pak Jaka.

Kedua pejabat eselon satu ini dikenal memiliki posisi tawar yang sangat kuat karena keberadaan mereka di sana merupakan titipan dan permintaan langsung dari Presiden Prabowo Subianto.

Situasi semakin meruncing ketika kementerian melakukan penahanan dana restitusi pajak secara besar-besaran untuk menekan kebocoran ekspor komoditas seperti nikel, batubara, hingga sawit.

Sayangnya, kebijakan sikat rata ini ikut membekukan arus kas perusahaan konstruksi lokal yang tidak bersalah, hingga memicu kepanikan massal di sektor ekonomi riil.

Gelombang protes dari pelaku usaha, penolakan dari para Dirjen, serta ketidakpuasan aparatur sipil negara atas gaya kepemimpinan yang meledak-ledak akhirnya bermuara pada laporan miring ke telinga presiden.

Hal inilah yang menjadi alasan utama mengapa tombol eksekusi pencopotan jabatan sang menteri akhirnya ditekan oleh kepala negara.

Bagi masyarakat atau netizen yang mempertanyakan mengapa figur yang dahulu ditunjuk langsung kini didepak, Mardigu Wowiek mengingatkan status Purbaya Yudhisadewa yang merupakan orang baru atau pihak luar di koalisi.

Ia tidak memiliki rekam jejak perjuangan puluhan tahun di Hambalang seperti elit politik lain atau rekan militer yang pernah bertaruh nyawa bersama presiden.

Dalam doktrin manajemen organisasi yang diterapkan, kecerdasan akademis memang dihargai, namun tingkat loyalitas dan soliditas satu komando tetap menempati prioritas nomor satu.

Tragedi pencopotan di pertengahan September ini menjadi alarm keras bagi seluruh pejabat publik agar selalu membangun keselarasan visi dengan lingkaran utama presiden jika tidak ingin terdepak dari sistem kekuasaan. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok



TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung