Berita, Timur Tengah

Perang Iran Bukan Lagi Soal Siapa Menang Cepat, Tapi Siapa Paling Tahan Lama

Repelita.net

31 March 2026 18:14 WIB • 1,192 view

Perang Iran Bukan Lagi Soal Siapa Menang Cepat, Tapi Siapa Paling Tahan Lama
Foto: Istimewa

Repelita Washington DC - Perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel kini memasuki fase yang membingungkan, bukan karena kurangnya peristiwa tetapi karena terlalu banyak kontradiksi antara serangan yang terus berlangsung dan sinyal perdamaian yang muncul di tengah konflik yang telah berjalan selama sebulan.

Berdasarkan editorial The Guardian yang dikutip pada Senin (30/3/2026), perang telah memasuki fase perang gesekan atau war of attrition dengan tidak ada tanda kemenangan cepat dari pihak Amerika Serikat maupun keruntuhan Iran di medan perang.

ADVERTISEMENT

Kedua pihak saling menyerang, saling mengklaim keberhasilan sekaligus menutupi kelemahan masing-masing, sementara konflik ini telah meluas dampaknya ke ekonomi global dari rantai pasokan energi hingga harga pupuk dan bahan bakar.

Menurut editorial China Daily pada Senin (30/3/2026), ada sinyal bahwa Presiden Donald Trump mulai mempertimbangkan untuk mengakhiri perang bahkan jika Selat Hormuz tetap tertutup, karena Gedung Putih menilai bahwa membuka jalur tersebut justru akan memperpanjang konflik melebihi target waktu yang telah ditetapkan.

Hal ini menunjukkan bahwa Washington mulai bergeser dari strategi militer ke kalkulasi politik dan diplomasi, meskipun pengerahan militer terus berlangsung di tengah narasi yang tidak konsisten antara perang dan perdamaian.

Editorial The Guardian menilai tidak ada strategi menyeluruh dari pihak Amerika Serikat karena Trump dinilai mencampuradukkan ancaman eskalasi dengan klaim adanya negosiasi tanpa bukti jalur diplomatik yang nyata.

Menurut editorial Le Monde yang dikutip pada Senin (30/3/2026), pihak yang paling menderita justru adalah rakyat Iran yang berada di tengah dua tekanan antara serangan militer dari luar dan represi dari dalam negeri.

Harapan bahwa perang akan memicu perubahan politik internal justru runtuh karena rezim tetap bertahan sementara warga sipil menanggung dampak paling besar dari konflik yang berkepanjangan.

Editorial Le Monde juga menyoroti bahwa pembenaran awal perang yakni mendukung kebebasan rakyat Iran telah kehilangan relevansi, karena ketika Iran mampu merespons dengan memblokir Selat Hormuz dan mempertahankan struktur kekuasaannya maka narasi perubahan rezim menjadi tidak realistis.

Fokus pun bergeser menjadi sekadar melemahkan Iran meskipun dengan konsekuensi besar bagi warga sipil yang terus menanggung beban berat di tengah eskalasi konflik.

Menurut editorial The Guardian, satu-satunya jalan keluar yang masuk akal adalah negosiasi tanpa prasyarat, namun masalahnya bukan pada opsi melainkan pada kondisi politik yang tidak memungkinkan karena Amerika Serikat ingin Iran berubah sementara Iran menuntut diterima apa adanya.

Editorial global sepakat bahwa perang ini bukan dirancang untuk cepat selesai karena Iran mengandalkan strategi bertahan dan memperpanjang konflik sementara Amerika Serikat terjebak antara eskalasi dan penarikan diri.

Bahkan menurut China Daily, Washington mulai mempertimbangkan opsi perdamaian terbatas ketimbang kemenangan total, menjadikan konflik ini sebagai perang panjang yang tidak hanya terjadi di medan tempur tetapi juga di pasar energi, ekonomi global, dan ruang politik internasional.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung