Repelita Teheran - Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei membantah keras klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut Republik Islam telah menerima proposal gencatan senjata, dengan menegaskan bahwa pernyataan presiden AS tersebut sama sekali tidak berdasar dan hanya merupakan narasi sepihak.
Baqaei memastikan bahwa posisi Iran konsisten sejak awal konflik pecah, yaitu menolak seluruh tuntutan yang berlebihan dan tidak masuk akal yang disampaikan melalui perantara dari pihak Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT
Ia juga menyatakan bahwa hingga saat ini Iran belum pernah melakukan negosiasi langsung dengan Amerika Serikat, dan satu-satunya komunikasi yang terjadi hanyalah penerimaan pesan-pesan melalui negara ketiga yang menunjukkan keinginan AS untuk berdialog.
“Yang telah dibahas adalah pesan-pesan yang diterima melalui perantara yang menunjukkan keinginan AS untuk berdialog,” kata Baqaei dalam pernyataannya yang dikutip dari Tasnim News pada Senin (30/3/2026).
Menurutnya, setiap kali AS berbicara tentang diplomasi di tengah eskalasi militer yang sedang berlangsung, hal itu justru harus menimbulkan kecurigaan besar karena rekam jejak Washington yang kerap menggunakan diplomasi sebagai alat tekanan.
Baqaei mencatat bahwa tidak jelas berapa banyak orang di AS yang benar-benar menganggap serius klaim diplomasi mereka sendiri, sementara Iran selalu mengetahui dengan pasti kerangka kerja yang dicarinya dalam setiap komunikasi yang terjalin.
“Iran selalu mengetahui kerangka kerja yang dicarinya,” tegas Baqaei, menekankan bahwa pendirian negaranya jelas dan tidak berubah seperti posisi AS yang kerap berubah-ubah sesuai kepentingan.
Menanggapi klaim Trump yang menyebut Iran telah menyetujui sebagian besar dari 15 tuntutan yang diajukan AS, Baqaei mengatakan bahwa pejabat AS berbicara sesuka hati mereka namun Iran tidak pernah melakukan negosiasi dengan mereka secara langsung.
“Satu-satunya kontak adalah permintaan untuk berdialog dari AS yang disampaikan melalui negara ketiga,” ujar Baqaei, merujuk pada peran Pakistan dan negara lain yang menjadi jembatan komunikasi antara kedua pihak.
Trump sebelumnya mengklaim kepada wartawan di Air Force One pada Ahad (29/3/2026) bahwa Iran telah memberi Amerika sebagian besar poin yang diminta, namun ia menolak untuk menyebutkan konsesi apa yang telah ditawarkan Republik Islam tersebut.
“Mereka memberi kami sebagian besar poin. Mengapa tidak? Kami akan meminta beberapa hal lain,” kata Trump sebagaimana dilansir Al Arabiya pada Ahad (29/3/2026).
Sementara itu, Baqaei juga mengejek laporan kekurangan rudal Tomahawk di Washington melalui unggahan di akun X pribadinya pada Senin (30/3/2026), dengan menyoroti bahwa AS telah menyia-nyiakan persenjataannya pada target sipil.
“Jika mereka menyimpan dua rudal yang mereka tembakkan ke sekolah Shajareh Tayyebeh di Minab pada 28 Februari, mereka bisa dengan bangga membual hari ini memiliki dua rudal Tomahawk tambahan dalam inventaris mereka untuk dijatuhkan ke sekolah lain, universitas, rumah sakit, atau situs budaya-sejarah,” kata Baqaei dalam cuitannya.
Di sisi militer, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan pada Ahad (29/3/2026) bahwa unit pertahanan udaranya telah menembak jatuh lima pesawat tak berawak Hermes 900 milik rezim Zionis Israel di atas pantai selatan Iran, dengan drone canggih yang diproduksi Elbit Systems tersebut diperkirakan bernilai sekitar 10 juta dolar AS per unit.
Menurut informasi yang dirilis IRGC, jumlah pesawat tak berawak musuh yang dihancurkan dalam Perang Ramadan atau pertahanan terhadap agresi AS-Israel telah mendekati 140 unit, sementara jet tempur generasi F canggih musuh yang terkena dan dihancurkan juga mencapai angka dua digit.
IRGC juga mengumumkan bahwa gelombang ke-86 operasi True Promise 4 diluncurkan pada Ahad (29/3/2026) dini hari dalam format multi-tahap, yang melibatkan serangan rudal dan drone terkoordinasi oleh Angkatan Udara dan Angkatan Laut IRGC terhadap target AS dan Israel di wilayah tersebut.
Pada fase pertama operasi, serangan rudal dan drone menargetkan infrastruktur operasional udara dan drone serta persediaan senjata di pangkalan AS termasuk Victoria, Arifjan, dan Al Kharj.
IRGC menambahkan bahwa pada tahap selanjutnya, tempat persembunyian pasukan teroris dari tentara AS dan Israel serta elemen-elemen yang berafiliasi dengan kelompok Komala menjadi sasaran tepat di berbagai wilayah seperti Arad, Negev, Tel Aviv, Erbil, Armada Kelima AS, dan Al Dhafra.
Lebih lanjut dinyatakan bahwa kepulan asap dan ledakan terlihat di seluruh wilayah, dengan gambar-gambar yang menunjukkan puing-puing pesawat AS senilai jutaan dolar telah hancur akibat serangan balasan yang terus berlanjut.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok