Repelita [Jakarta] - Tifauzia Tyassuma atau yang akrab disapa Dokter Tifa menceritakan pengalaman dramatis saat dirinya dijemput paksa oleh kepolisian pada Jumat (19/6/2026).
Penangkapan tersebut terkait dengan kasus dugaan pencemaran nama baik yang menyeret namanya dalam polemik ijazah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.
ADVERTISEMENT
Tifa mengaku telah mencium gelagat mencurigakan saat ia berada di basement apartemennya pada pagi hari sebelum petugas mendekatinya.
"Hmm, jadi juga nih," ungkap Tifa dalam tayangan kanal YouTube Forum Keadilan, Senin (29/6/2026).
Ia menuturkan terdapat empat mobil berisi aparat yang datang dengan mengenakan masker serta rompi khusus, namun ia tetap mengenali sosok-sosok tersebut.
"Udah hafal banget walaupun mereka pakai masker," ucapnya.
Menurut Tifa, penangkapan itu terasa janggal karena dilakukan tepat saat dirinya tengah bersiap menjalani ujian disertasi akademik.
"Begitu ini kejadian tepat pada hari Jumat, 19 Juni, tepat pada saat saya mau ujian disertasi, saya bilang, saya sudah persiapan dalam detik itu juga, bahwa berkah Allah apa yang akan terjadi pada hari ini," imbuhnya.
Kepolisian mendasari penangkapan tersebut atas tuduhan tidak melakukan wajib lapor, sebuah alasan yang dianggap Tifa sebagai rekayasa untuk menggagalkan ujiannya.
"Hari ini saya mau ujian, pasti teman-teman tahu kan, kalian datang jam 6 pagi, pasti tahu bahwa saya mau ujian. Sengaja apa gimana mau gagalkan ujian?" ucapnya.
Dalam kondisi tertekan, ia akhirnya bersedia mengikuti proses hukum dengan syarat pihak kepolisian memfasilitasinya agar tetap bisa mengikuti ujian secara daring.
Permintaan itu dikabulkan, sehingga ia harus menuntaskan ujian di ruang kantor polisi dengan dikelilingi oleh empat orang petugas.
"Masalahnya saya ujian dikelilingi sama polisi. Ada empat," imbuhnya.
Ia pun menyoroti pengerahan kekuatan besar yang menurutnya berlebihan, dengan total mencapai 88 personel untuk menangkap dua orang akademisi.
"Ternyata total reserse yang digerakkan menangkap saya dan Mas Roy (Roy Suryo), pokoknya ini tuh 88 orang, hanya untuk menangkap dua orang akademisi, peneliti yang kooperatif," ucapnya.
"Benar-benar situasinya itu, baik di tempat saya maupun di tempat Mas Roy, benar-benar kayak gembong narkoba dan teroris," sambung Tifa. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok