Repelita [Jakarta] - Pegiat media sosial Tifauzia Tyassuma atau Dokter Tifa membeberkan pandangannya soal polemik dokumen akademik Presiden ke-7 RI Joko Widodo di tengah pusaran perkara hukum yang membelitnya.
Guna membuktikan keabsahan atau dugaan kepalsuan lembar ijazah tersebut Tifa menilai proses verifikasi tidak membutuhkan uji laboratorium forensik.
ADVERTISEMENT
Langkah pembuktian dinilai dapat dicapai secara intuitif melalui pengamatan langsung berdasarkan hasil telaah timnya selama setahun lebih.
"Ijazah itu gampang. Mau dibuktikan palsu atau asli itu gampang, enggak usah pakai Labfor, dengan kasat mata," ujar Tifa.
Ia menggarisbawahi kepercayaan dirinya bersumber dari rangkaian kajian komprehensif yang berjalan selama kurun waktu empat ratus lima puluh hari.
"Kami diuntungkan dengan 450 hari, di mana betul-betul melakukan pengkajian dan penelitian," katanya.
Ketika disinggung mengenai alat bukti persidangan Tifa memamerkan buku publikasi alumni yang diyakininya sebagai dokumen otentik.
Buku acuan tersebut sempat digunakan oleh pihak penentang pada masa awal perselisihan karena memuat identitas nama Joko Widodo pada lembar halaman dua ratus delapan puluh.
"Ini buku alumni, autentik, asli. Dulu justru dijadikan bukti karena di halaman 280 ada nama Joko Widodo," ujarnya.
Kendati demikian tim peneliti Tifa memilih memfokuskan pencermatan pada fitur fisik visual dibandingkan sekadar penulisan nama semata.
Pendekatan tersebut mencakup analisis mendalam pada struktur anatomi wajah serta atribut pendukung sosok di dalam foto.
"Yang kami lihat bukan namanya, tetapi kumis, kacamata, bentuk rahang, dan jarak mata," tuturnya.
Ia mengeklaim cara pencermatan visual tersebut merupakan bagian integral dari metodologi analisis yang diterapkan kelompoknya.
Lebih lanjut Tifa menegaskan bahwa temuan yang berkembang saat ini masih berada dalam taraf andaian awal dan belum menjadi muara kesimpulan.
Ia menumpukan perhatian pada keterangan asal sekolah menengah yang tertera pada lembar dokumen acuan timnya.
"Saya belum bilang ini tesis, masih hipotesis. Kalau di sini tertulis asal SLTA Jokowi adalah SMA 6 Yogyakarta," katanya.
Berdasarkan data tertulis itu Tifa mengembuskan sangkaan baru yang menurutnya memerlukan penelusuran mendalam.
"Berarti ada dua Joko Widodo. Jadi investigasinya harus ditelusuri lagi," ujarnya.
Guna menindaklanjuti temuan tersebut penelusuran bakal diarahkan pada arsip instansi pendidikan daerah serta daftar penerimaan mahasiswa baru UGM periode seribu sembilan ratus delapan puluh.
"Mulai dari SMA 6 Yogyakarta, kami akan mencari data di dinas pendidikan. Lalu ditelusuri juga pada 1980 UGM menerima berapa mahasiswa bernama Joko Widodo," tuturnya.
Di penghujung pemaparannya Tifa kembali melontarkan kesangsian terkait identitas figur nasional tersebut.
"Ada dua Joko Widodo. Yang satu mengaku alumni SMA 6 Surakarta, sementara di sini ada eviden SMA 6 Yogyakarta. Nah, yang mana ini yang jadi presiden?" pungkasnya. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok