Repelita Washington DC - Amerika Serikat dan Israel mungkin unggul di udara dalam perang melawan Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026, tetapi konflik ini justru membuka babak baru Timur Tengah yang lebih berbahaya, lebih mahal, dan lebih sulit dikendalikan karena yang dipertaruhkan kini adalah stabilitas kawasan, jalur energi dunia, dan masa depan rezim Iran sendiri.
Di atas kertas Washington dan Tel Aviv terlihat dominan setelah berhasil menghancurkan sebagian besar pertahanan udara Iran serta melumpuhkan infrastruktur militer dan fasilitas nuklirnya dalam serangan awal yang disebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei beserta sejumlah petinggi Garda Revolusi dan pejabat tinggi pertahanan.
ADVERTISEMENT
Namun di lapangan Iran belum tumbang dan justru masih mampu membuat kekacauan besar di kawasan dengan meluncurkan Operasi Janji Sejati IV hanya beberapa jam setelah serangan pertama, mengarahkan rudal dan drone tidak hanya ke Israel dan pangkalan Amerika di Timur Tengah tetapi juga ke infrastruktur penting milik sekutu-sekutu Amerika di Teluk.
Puncak eskalasi terjadi ketika Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran yang mengalirkan sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia, yang langsung mengguncang pasar global dan membuat raksasa pelayaran seperti Maersk, CMA CGM, dan Hapag-Lloyd menghentikan sementara operasi melalui selat tersebut.
Harga minyak dunia pun melonjak liar dari kisaran 65 dolar AS per barel menjadi sempat menembus lebih dari 120 dolar AS per barel, sementara ekspor minyak dari kawasan Teluk disebut turun hingga 60 persen pada pertengahan Maret 2026.
Pemerintahan Trump mencoba meredam krisis dengan melonggarkan embargo minyak Rusia dan menyerang baterai rudal pantai Iran, pangkalan angkatan laut Garda Revolusi, serta gudang rudal bawah tanah, namun belum ada solusi cepat untuk membuka kembali Selat Hormuz secara aman karena operasi penyapuan ranjau bisa memakan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.
Upaya Amerika Serikat untuk mengajak sekutu NATO dan negara lain terlibat dalam operasi pengamanan Hormuz disebut tidak mendapat sambutan hangat, dengan banyak pihak memilih menjaga jarak karena menganggap ini adalah perang Amerika dan Israel bukan perang mereka.
Meski Amerika Serikat dan Israel masih menguasai langit Iran, Teheran tetap mampu memberi pukulan simbolik yang memalukan termasuk berhasil merusak sistem radar penting dan satu jet tempur siluman F-35 Amerika pada 19 Maret 2026, yang selama ini dikenal sebagai simbol superioritas militer Barat.
Ancaman lain yang tak kalah merepotkan adalah serangan drone murah Iran yang dalam beberapa kasus diluncurkan dalam gelombang 50 hingga 100 unit sekaligus, memaksa negara-negara Teluk menembakkan rudal pencegat bernilai jutaan dolar hanya untuk menjatuhkan drone dengan ongkos produksi yang jauh lebih murah.
Iran kini bertahan dengan pola perang asimetris, dan selama mereka masih bisa menembakkan rudal, meluncurkan drone, dan mengganggu jalur energi dunia maka mereka masih menjadi ancaman nyata yang membuat klaim kemenangan dari Washington dan Tel Aviv terdengar prematur.
Dari tiga tujuan utama perang yaitu melumpuhkan ancaman militer Iran, menghancurkan kapasitas nuklirnya, dan menjatuhkan rezim yang berkuasa di Teheran, hanya tujuan pertama yang bisa dibilang cukup berhasil sementara tujuan kedua masih setengah matang karena Iran disebut masih memiliki sekitar 440 kilogram uranium yang telah diperkaya.
Yang paling rumit adalah tujuan ketiga karena meskipun sejumlah tokoh puncak tewas, rezim Iran belum roboh dan Garda Revolusi Iran justru menjadi institusi paling dominan dalam perang ini dengan pengambilan keputusan militer yang semakin terdesentralisasi.
Tanpa invasi darat atau pemberontakan massal besar dari dalam negeri, peluang runtuhnya rezim Iran masih rendah, namun invasi darat ke Iran bukan operasi sederhana karena medan pegunungan dan gurun membuat operasi militer sangat mahal dan negara-negara tetangga hampir mustahil mau dijadikan pangkalan untuk serangan darat besar-besaran.
Kesimpulan yang mulai menguat cukup pahit bagi Washington dan Tel Aviv: mereka bisa menghancurkan Iran, tetapi belum tentu bisa benar-benar menang karena selama sistem yang berkuasa masih bertahan dan selama rudal serta drone masih bisa terbang maka Iran masih punya cara untuk menolak kalah.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok