Repelita [Jakarta] - Wartawan senior Edy Mulyadi melontarkan analisis tajam terkait dinamika politik nasional yang dianggapnya sebagai upaya kudeta sistematis terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Ia menyoroti adanya pola kontras antara kesibukan Presiden Prabowo menghadapi tekanan ekonomi serta demonstrasi dengan sikap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang cenderung tenang.
ADVERTISEMENT
Menurut Edy, manuver Gibran yang aktif turun ke lapangan membagikan bantuan sosial bukan sekadar tugas resmi, melainkan langkah konsolidasi politik untuk investasi menuju 2029.
Ia menduga langkah tersebut merupakan strategi untuk membangun citra diri yang berbeda, seolah ingin memposisikan diri sebagai sosok penyelamat di tengah kegaduhan yang mendera pemerintahan.
Gerakan dari lingkaran Istana Wakil Presiden ini diklaim Edy mendapatkan dukungan masif dari pergerakan eksternal melalui Partai Solidaritas Indonesia yang dipimpin Kaesang Pangarep.
Selain itu, ia menyoroti serangan digital dari para buzzer yang disebutnya bertindak atas satu komando untuk mendegradasi tingkat kepercayaan publik terhadap Presiden Prabowo.
Analisis ini semakin diperkuat dengan serangkaian safari politik mantan Presiden Joko Widodo ke berbagai daerah yang dianggap sebagai pesan intimidasi bagi lawan politiknya.
Puncak simbolis yang disorot adalah prosesi adat di Lampung yang menyertakan adegan menginjak kepala kerbau, yang ditafsirkan sebagai pesan politik tingkat tinggi.
Edy mencurigai adanya aliansi antara kekuatan dinasti dengan kelompok oligarki yang merasa dirugikan oleh kebijakan tegas pemerintah di sektor pertambangan dan perkebunan.
"Maka, terjadilah kongsi jahat itu: Jokowi butuh kekuasaan dan proteksi untuk dinastinya. Sementara oligarki butuh kembali mengeruk SDA Indonesia tanpa gangguan," tulisnya dalam kolom analisis tersebut.
Tujuan akhir dari kolaborasi ini diyakini sebagai upaya untuk menjatuhkan Presiden Prabowo lebih cepat dari masa jabatan yang seharusnya.
Edy mengingatkan agar Presiden Prabowo segera meningkatkan kewaspadaan dan mengambil tindakan tegas terhadap setiap ancaman yang muncul dari dalam lingkaran kekuasaannya sendiri.
Ia menegaskan bahwa kelalaian dalam mendeteksi musuh dalam selimut dapat berakibat fatal bagi stabilitas nasional dan nasib rakyat di masa depan.
"Prabowo harus waspada dan tegas. Bertindak cepat dan tepat. Eliminasi setiap potensi ancaman yang ada," pungkas Edy dalam catatan tertanggal 29 Juni 2026. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok