Berita, Timur Tengah

3.500 Tentara AS Tiba di Timur Tengah, Iran Ancam Kawasan Jadi Kuburan Massal dan Ujani Pasukan Amerika dengan Peluru

Repelita.net

30 March 2026 23:02 WIB • 1,186 view

3.500 Tentara AS Tiba di Timur Tengah, Iran Ancam Kawasan Jadi Kuburan Massal dan Ujani Pasukan Amerika dengan Peluru
Foto: Istimewa

Repelita Washington DC - Eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Iran terus memanas dengan pengerahan 3.500 tentara AS ke Timur Tengah, sementara Iran mengancam akan mengujani pasukan tersebut dengan peluru jika nekat melakukan operasi darat di wilayahnya.

Kedatangan pasukan AS bersamaan dengan rencana Departemen Pertahanan AS (Pentagon) yang sedang mempertimbangkan pengerahan pasukan darat ke Iran, menandai fase baru yang dinilai lebih berbahaya bagi personel Amerika.

ADVERTISEMENT

Peningkatan kekuatan militer AS di Timur Tengah membuat akhir perang yang dimulai sejak 28 Februari 2026 semakin tidak jelas, dengan Pentagon mempersiapkan operasi darat selama beberapa minggu di Iran sebagaimana dilaporkan The Washington Post pada Ahad (29/3/2026).

“Jika Presiden Donald Trump menyetujui rencana tersebut, upaya semacam itu akan menandai fase baru perang yang bisa jauh lebih berbahaya bagi pasukan AS daripada empat minggu pertama,” demikian laporan The Washington Post.

Sebanyak 3.500 tentara tiba di wilayah tersebut pada Jumat (27/3/2026), termasuk sekitar 2.200 personel Korps Marinir, sementara 2.200 personel Korps Marinir lainnya sedang dalam perjalanan dan ribuan pasukan dari Divisi Lintas Udara ke-82 juga telah diperintahkan ke wilayah tersebut.

Juru bicara Markas Pusat Pertahanan Udara Khatam al-Anbiya, Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaghari, melalui siaran televisi pemerintah Iran pada Sabtu (28/3/2026) menyebut bahwa kawasan Timur Tengah bakal menjadi kuburan massal untuk pasukan AS jika mereka nekat melancarkan invasi.

Dalam pernyataannya, Zolfaghari secara langsung menyasar Presiden Donald Trump dan jajaran militer Washington dengan menegaskan bahwa keberadaan pasukan Amerika di kawasan Timur Tengah akan menghadapi konsekuensi besar.

Menurut Zolfaghari, dinamika konflik yang berkembang menunjukkan bahwa dominasi militer Amerika Serikat tidak lagi menjadi faktor penentu di kawasan yang sarat konflik tersebut.

Ia bahkan menyatakan bahwa pasukan Amerika tidak akan memiliki pilihan selain menyerah kepada kehendak rakyat jika konfrontasi terus berlanjut.

Eskalasi terbaru ini dipicu oleh serangan militer yang dilancarkan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran, yang terjadi hanya beberapa jam setelah Tel Aviv mengeluarkan ancaman untuk memperluas operasi militernya terhadap Teheran.

Sebagai respons, Iran melancarkan serangan ke Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi yang dilaporkan melukai sejumlah personel militer Amerika serta merusak beberapa pesawat militer termasuk pesawat pengisian bahan bakar.

Insiden ini menjadi salah satu serangan paling langsung terhadap kepentingan militer Amerika di kawasan sejak konflik meningkat dalam beberapa pekan terakhir.

Di tengah memanasnya situasi, Presiden Donald Trump memberikan pernyataan yang kontras dengan ancaman dari Teheran dengan menilai Iran berada dalam posisi tertekan dan membuka peluang terjadinya negosiasi antara kedua negara.

Trump menyebut bahwa Iran saat ini tengah dihancurkan oleh tekanan yang ada sekaligus mengklaim bahwa proses perundingan sedang berlangsung, sambil menegaskan superioritas militer Amerika Serikat sebagai faktor utama dalam dinamika konflik tersebut.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung