Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Yukki Nugrahawan Hanafi: Eskalasi AS-Israel vs Iran dan Penutupan Selat Hormuz Ancam Stabilitas Ekonomi Global serta Bebani APBN Indonesia

 

Repelita Jakarta - Ketua Dewan Pembina Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia sekaligus anggota Dewan Penasihat CILT Indonesia Yukki Nugrahawan Hanafi menyatakan bahwa eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat Israel serta Iran yang melibatkan penutupan Selat Hormuz berpotensi mengganggu rantai pasok global secara signifikan.

Menurutnya serangan militer besar-besaran tersebut mengancam stabilitas politik dan ekonomi dunia karena mengakibatkan gangguan distribusi logistik internasional yang sulit dihindari tanpa tercapainya perdamaian di kawasan Timur Tengah.

Eskalasi konflik ini langsung menarik perhatian dunia akan gangguan rantai pasok logistik global yang bisa menekan ekonomi banyak negara terlebih retaliasi Iran saat ini melakukan blokade di Selat Hormuz yang merupakan jalur distribusi minyak dan gas utama dari Timur Tengah ke berbagai negara kata Yukki dikutip dari Antara di Jakarta pada Minggu satu Maret dua ribu dua puluh enam.

Yukki Nugrahawan Hanafi menjelaskan bahwa dampak langsung dari situasi tersebut telah terlihat pada lonjakan harga minyak mentah WTI yang mencapai enam puluh tujuh dolar Amerika Serikat serta Brent yang menyentuh tujuh puluh dua koma delapan dolar Amerika Serikat pada Sabtu dua puluh delapan Februari dua ribu dua puluh enam.

Ia menilai setidaknya terdapat dua konsekuensi utama jangka pendek terhadap perekonomian Indonesia sebagai negara pengimpor bersih minyak.

Pertama terjadi kenaikan biaya impor minyak yang membebani subsidi energi serta memperlebar defisit fiskal pemerintah.

Jika harga minyak dunia melampaui asumsi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara maka diperlukan penyesuaian yang meningkatkan beban anggaran negara disertai risiko inflasi serta kenaikan biaya logistik secara keseluruhan.

Kedua muncul volatilitas nilai tukar rupiah akibat arus modal keluar di tengah ketidakpastian global yang mendorong investor beralih ke aset aman seperti dolar Amerika Serikat serta emas.

Tekanan jual di pasar saham dan obligasi domestik berpotensi melemahkan rupiah sehingga memperbesar beban impor dan memperkuat tekanan inflasi yang memaksa Bank Indonesia mempertahankan suku bunga tinggi guna menjaga stabilitas nilai tukar.

Yukki Nugrahawan Hanafi menekankan bahwa kedua faktor tersebut perlu menjadi perhatian utama pemerintah Indonesia dalam menghitung kesiapan menghadapi berbagai skenario lanjutan jika konflik berlarut-larut.

Ia berharap konflik tersebut dapat segera mereda sehingga stabilitas kawasan Timur Tengah dapat kembali terwujud demi menghindari dampak yang lebih luas terhadap ekonomi global dan nasional.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved