Repelita Washington - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan keinginan kuat untuk ikut campur dalam proses penentuan pemimpin tertinggi baru Iran di tengah memanasnya ketegangan antara Washington dengan Teheran yang juga melibatkan Israel di kawasan Timur Tengah.
Trump secara terbuka menginginkan munculnya figur kepemimpinan baru di Iran yang lebih akomodatif terhadap kepentingan Amerika Serikat dan menjauh dari sikap konfrontatif saat ini.
Ia secara khusus menolak kemungkinan Mojtaba Khamenei putra pemimpin tertinggi Ali Khamenei untuk menggantikan posisi ayahnya di masa mendatang.
Menurut pandangan Trump Amerika Serikat seharusnya memiliki peran pengaruh dalam membentuk arah kepemimpinan baru Iran agar menghasilkan kebijakan yang lebih terbuka terhadap hubungan dengan Washington.
Trump mencontohkan perubahan kepemimpinan di Venezuela sebagai model yang berhasil mempertahankan kerangka pemerintahan existing sambil menghasilkan kebijakan yang lebih selaras dengan kepentingan Amerika Serikat.
Ia menyebut kasus transisi kekuasaan yang melibatkan Delcy Rodriguez setelah era Nicolas Maduro sebagai gambaran perubahan tanpa harus mengganti sistem negara secara radikal.
Beberapa pengamat menilai gagasan intervensi semacam itu sangat sulit direalisasikan di Iran mengingat sistem politik Republik Islam yang memiliki mekanisme suksesi kepemimpinan tertinggi yang ketat dan berbasis agama.
Pemimpin tertinggi Iran harus berasal dari kalangan ulama dengan kualifikasi keagamaan tinggi dan dipilih melalui Assembly of Experts yang terdiri dari 88 anggota ulama berwenang.
Lembaga tersebut memiliki otoritas penuh untuk menentukan serta mengesahkan pemimpin tertinggi tanpa campur tangan presiden atau kekuatan luar negeri.
Beberapa nama yang kerap disebut sebagai kandidat potensial pengganti Ali Khamenei antara lain Hassan Khomeini cucu pendiri Republik Islam serta ulama senior Alireza Arafi.
Pemerintah Iran menegaskan bahwa tidak ada pembicaraan maupun negosiasi apa pun dengan Amerika Serikat mengenai masa depan kepemimpinan negara tersebut.
Kemungkinan keterlibatan Washington dalam proses suksesi kepemimpinan Iran dinilai sangat minim akibat keteguhan sistem politik internal Teheran.
Ketegangan politik serta militer yang terus berlangsung antara Iran Amerika Serikat dan Israel menjadikan isu pergantian pemimpin tertinggi Iran sebagai salah satu perhatian geopolitik utama dunia saat ini.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

