Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Sistem Radar Israel Buta! Iran Klaim Rudal dan Drone Kini Hantam Sasaran Tanpa Sirene

edit visual geopolitik, hapus Netanyahu dalam lingkaran, langit penuh rudal dan pesawat, logo Repelita kanan atas

Repelita Timur Tengah - Perang modern tidak hanya menentukan siapa yang memiliki persediaan rudal terbanyak, tetapi juga siapa yang lebih dulu berhasil membutakan mata musuh di medan laga.

Iran mengklaim telah mencapai terobosan besar dalam pertempuran sensorik melawan koalisi Amerika Serikat dan Israel yang menyebabkan sistem peringatan dini Israel kini kacau balau.

Serangan besar-besaran terhadap sistem radar milik rezim Zionis telah menyebabkan gangguan serius dalam mendeteksi waktu peluncuran rudal yang berasal dari Teheran.

Tasnim News melaporkan bahwa serangan terbaru Republik Islam menargetkan sejumlah fasilitas deteksi penting milik musuh dengan presisi tinggi.

Serangan itu menghantam beberapa sistem pemantauan yang menjadi tulang punggung pertahanan udara Israel.

Akibatnya, kemampuan rezim Zionis untuk mendeteksi waktu peluncuran rudal dan drone mengalami gangguan signifikan.

Gangguan tersebut secara langsung mengurangi efektivitas sistem peringatan dini Israel yang selama ini diandalkan.

Akibatnya, sirene kadang-kadang berbunyi di seluruh wilayah yang diduduki tanpa pola yang jelas, kata sumber tersebut.

"Mulai hari ini, beberapa peluncuran rudal ke arah wilayah pendudukan telah mengenai sasarannya tanpa peringatan atau kesiapan apa pun dari pihak Israel — secara efektif tanpa menghadapi respons pertahanan udara yang serius," kata sumber tersebut dikutip Tasnim News, Kamis, 12 Maret 2026.

Ia menambahkan bahwa terkadang sirene peringatan justru berbunyi bahkan ketika tidak ada rudal yang diluncurkan dari Republik Islam.

Sumber tersebut menekankan bahwa pasukan militer Israel kini menghadapi ketidakpastian besar dalam sistem peringatan yang mereka miliki.

Mereka tidak lagi dapat memastikan bahwa tidak ada rudal yang datang ketika peringatan peluncuran tidak muncul di layar radar.

Ketidakpastian ini meningkatkan risiko kesalahan fatal dalam membaca situasi serangan yang sebenarnya.

Bahkan ketika sistem mendeteksi peringatan peluncuran dari Teheran, militer Israel tetap tidak bisa memastikan bahwa rudal benar-benar telah ditembakkan.

Kondisi ini menunjukkan gangguan serius pada sistem deteksi dan peringatan dini mereka yang selama ini dianggap canggih.

"Ini merupakan perkembangan yang signifikan dan dapat menyebabkan kebingungan serius dalam sistem pertahanan mereka."

Sumber tersebut melanjutkan dengan mengatakan bahwa satu-satunya kemajuan Israel sejak perang 12 hari adalah kemampuan sensor medianya.

Sebaliknya, kondisi bagi warga sipil Israel menjadi jauh lebih mengerikan dari sebelumnya.

Pernyataan sumber tersebut sejalan dengan pengumuman resmi militer Republik Islam pada 11 Maret 2026.

Militer Teheran mengonfirmasi bahwa serangan drone yang dilakukan sejak Rabu dini hari berhasil menargetkan sejumlah infrastruktur intelijen dan radar strategis milik rezim Zionis.

Target pertama yang berhasil dihancurkan adalah Dinas Intelijen Militer Israel yang dikenal dengan nama Aman.

Lembaga ini selama ini bertugas menentukan target dan tindakan militer dalam perang.

Selanjutnya, Unit 8200 yang merupakan unit intelijen sinyal elit Israel juga menjadi sasaran serangan.

Unit ini bertanggung jawab mengumpulkan informasi komunikasi digital dan operasi siber ofensif.

Yang paling krusial, Teheran menyerang radar Green Pine yang merupakan komponen utama dalam sistem pertahanan rudal Israel.

Radar ini menjadi andalan militer rezim Zionis untuk menghadapi rudal balistik yang diluncurkan Teheran.

Dengan merusak radar-radar ini, kemampuan Israel menangkis serangan rudal Iran berkurang secara signifikan.

Para analis militer menjelaskan bahwa Teheran dan Hizbullah telah menemukan kelemahan dalam sistem peringatan dini rudal Israel.

Mereka kemudian mengeksploitasinya secara sistematis melalui serangan bertahap.

Strategi Teheran terdiri dari beberapa lapisan yang dirancang dengan sangat matang.

Pertama, Iran menargetkan radar peringatan dini AN/FPS-132 yang berbasis di Qatar.

Mereka juga menyerang beberapa radar pita X AN/TPY-2 yang tersebar di Yordania, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.

Sistem-sistem ini sebelumnya menyediakan deteksi jarak jauh yang dibutuhkan untuk peringatan 10 menit yang diperpanjang.

Kedua, Hizbullah menyerang Teleport Ha'Ela di dekat Beit Shemesh yang merupakan stasiun komunikasi satelit sangat penting bagi militer Israel.

Ketiga, Iran secara khusus menargetkan Pangkalan Udara Sdot Micha yang menampung sistem rudal anti-balistik Arrow dan radar Green Pine.

Dengan secara sistematis membutakan jaringan radar AS dan Israel, Iran telah mengubah jaringan sensor yang berlebihan menjadi tambal sulam dengan celah serius.

Hal ini mengekspos baterai pertahanan rudal terhadap serangan langsung dari berbagai arah.

Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia, pejabat militer Iran, menegaskan bahwa serangan yang dilakukan oleh IRGC dan Angkatan Darat telah secara serius menurunkan kemampuan sistem radar utama.

Sistem radar tersebut selama ini digunakan untuk melacak rudal dan drone di kawasan Timur Tengah.

Akraminia mengklaim bahwa pasukan Iran kini dapat menyerang target musuh dengan presisi lebih tinggi karena beberapa sistem radar telah dinetralisir.

Media Iran melaporkan bahwa hampir setengah dari instalasi radar yang mendukung operasi pertahanan udara AS dan Israel di kawasan telah hancur atau terganggu parah.

Dampak dari keberhasilan Iran ini langsung dirasakan oleh warga sipil Israel.

Seperti diakui oleh sumber intelijen Iran, kondisi warga Israel menjadi jauh lebih mengerikan dari sebelumnya.

Mereka tidak bisa lagi mengandalkan sirene peringatan yang selama ini menjadi acuan.

Sirene kadang berbunyi tanpa ada rudal yang datang, menciptakan kepanikan yang tidak perlu di tengah masyarakat.

Di sisi lain, rudal bisa menghantam tanpa peringatan sama sekali tanpa bisa diprediksi.

Ketidakpastian ini memicu frustrasi mendalam di kalangan warga Israel dan para pejabat.

Mereka frustrasi atas ketidakmampuan sistem melindungi warga dari serangan yang terus datang.

Kebohongan yang selama ini didengar publik di media, bahwa Hizbullah dan Iran telah dikalahkan dan tidak memiliki kemampuan lagi, hanya memperburuk frustrasi tersebut.

Pada hari ke-13 perang, Kamis 12 Maret 2026, IRGC melancarkan operasi rudal gabungan bersama Hizbullah.

Serangan bersama ini menargetkan lebih dari 50 sasaran di wilayah Israel, termasuk pangkalan militer di Haifa, Tel Aviv, dan Beersheba.

Serangan gabungan ini melibatkan rudal dari Iran yang dilaksanakan bersamaan dengan tembakan rudal dan drone Hizbullah dari Lebanon.

Garda Revolusi Iran juga menargetkan pangkalan militer AS di Al-Kharj, Arab Saudi, dan Al-Azraq, Yordania.

Koresponden AFP melaporkan sirene peringatan terdengar di berbagai wilayah Israel, termasuk di Yerusalem.

Layanan darurat Magen David Adom mengatakan tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam serangan kali ini.

Namun paramedis dikerahkan untuk merawat beberapa orang yang terjatuh saat bergegas menuju tempat perlindungan.

Iran berhasil melumpuhkan kemampuan deteksi dini Israel melalui serangan presisi terhadap radar Green Pine, Unit 8200, dan Dinas Intelijen Militer Aman.

Sistem peringatan Israel mengalami kebingungan total dengan sirene kadang berbunyi tanpa ada serangan.

Strategi Iran mengeksploitasi kelemahan radar berbasis di negara Teluk terbukti menjadi kelemahan fatal Israel.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved