Repelita Jakarta - Perang yang terus meluas sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari 2026 telah melumpuhkan Selat Hormuz, jalur perairan vital yang biasa dilewati 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.
Ancaman serangan balasan Iran praktis menutup Selat Hormuz sehingga membuat bahan bakar sulit sampai ke negara-negara yang membutuhkannya untuk pembangkit listrik, pemanas rumah, industri hingga transportasi di berbagai belahan dunia.
Harga pun melonjak di mana-mana dan tekanan biaya hidup berpotensi semakin berat bagi masyarakat kelas menengah ke bawah di negara-negara pengimpor energi.
Namun di tengah kekacauan global ini, dua negara justru terbukti kebal terhadap guncangan energi yang melanda dunia yaitu Uruguay dan Denmark berkat dominasi energi terbarukan dalam bauran listrik mereka.
Negara-negara dengan porsi energi terbarukan "buatan sendiri" yang lebih besar dalam bauran energinya dinilai lebih tahan terhadap guncangan geopolitik karena tidak bergantung pada impor bahan bakar fosil.
"Begitu teknologinya sudah ada di suatu negara, bahan bakar yang dipakai adalah Matahari, angin, panas Bumi yang semuanya lokal," kata Rana Adib, Sekretaris Eksekutif Jaringan Kebijakan Energi Terbarukan untuk Abad ke-21 (REN21).
"Itulah mengapa energi terbarukan jauh lebih tahan terhadap guncangan global," tegasnya menjelaskan keunggulan utama transisi energi.
Uruguay menjadi bukti nyata ketahanan energi terbarukan setelah negara kecil Amerika Selatan dengan 3,5 juta penduduk ini mulai merancang rencana besar untuk menyingkirkan bahan bakar fosil dari jaringan listriknya pascakrisis keuangan 2008.
Dengan memperluas ladang angin secara agresif di seluruh wilayah, lebih dari 90 persen listrik Uruguay kini berasal dari energi terbarukan terutama angin, Matahari, tenaga air, dan biofuel.
Angka itu bahkan mencapai 98 persen di tahun-tahun dengan curah hujan dan kecepatan angin yang tinggi memberikan keamanan pasokan optimal.
Saat krisis energi akibat perang Ukraina menghantam banyak negara, harga energi di Uruguay tetap stabil tidak terpengaruh gejolak global yang melanda Eropa dan Asia.
"Ini sangat penting karena artinya inflasi tidak memukul negara ini seperti yang terjadi pada negara yang sangat bergantung pada impor bahan bakar fosil," kata Adib.
Investasi di sektor energi terbarukan juga menciptakan 50.000 lapangan kerja dan memungkinkan Uruguay menghemat biaya impor energi hingga U$500 juta (Rp8,4 triliun) per tahun.
Denmark adalah contoh lain negara yang berhasil menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil melalui kebijakan konsisten sejak krisis minyak periode 1970-an.
Krisis minyak yang memukul negara Skandinavia ini dengan keras mendorongnya untuk mulai mengembangkan energi terbarukan sejak dini.
Kini lebih dari 80 persen listrik Denmark dipasok dari energi hijau dengan angin menyumbang hampir 60 persen dari total tersebut diikuti biogas.
Negara dengan 6 juta penduduk ini menargetkan sistem listrik yang sepenuhnya bebas bahan bakar fosil pada 2030 untuk mencapai ketahanan energi jangka panjang.
Sistem pemanas terpusat di Denmark yang sudah terhubung ke lebih dari 65 persen rumah tangga juga sebagian besar sudah meninggalkan batu bara dan direncanakan sepenuhnya beralih ke biometana terbarukan pada 2030.
"Energi adalah nadi masyarakat dan industri kita," kata Antony Froggatt, pakar energi dari NGO Transport & Environment yang berbasis di Brussels, Belgia.
"Dan kita masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil. Dominasi energi terbarukan dalam jaringan listrik berkontribusi menekan harga dan melindungi konsumen," tambahnya.
Froggatt mengutip studi Dana Moneter Internasional (IMF) yang menunjukkan bahwa setiap kenaikan satu persen porsi energi terbarukan, rata-rata bisa menurunkan harga listrik grosir sebesar 0,6 persen.
Namun ia menekankan bahwa konsumen baru benar-benar terlindungi dari lonjakan harga minyak dan gas ketika transportasi dan pemanas rumah sudah sepenuhnya beralih ke listrik, misalnya melalui kendaraan listrik dan pompa panas.
"Kita akan butuh jauh lebih banyak listrik untuk menjalankan transisi energi ini, sehingga semakin penting untuk membangun lebih banyak energi terbarukan karena permintaan listrik diprediksi akan terus meningkat," katanya.
Dunia saat ini masih memperoleh sekitar 80 persen energi primernya dari bahan bakar fosil, sumber utama emisi gas rumah kaca yang mendorong perubahan iklim.
Ketergantungan ini membuat perekonomian rentan terhadap guncangan geopolitik seperti yang terjadi di Timur Tengah saat ini.
Transisi energi menjadi keniscayaan yang tidak hanya baik untuk lingkungan tetapi juga untuk ketahanan energi nasional di tengah konflik global.
Negara-negara yang memulai transisi lebih awal kini menuai manfaat berupa ketahanan energi di tengah krisis yang melanda dunia.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

