
Repelita Jakarta - Perubahan sikap pakar digital forensik Rismon Hasiholan Sianipar yang mengakui keaslian ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo memicu kritik keras dari rekan sesama tersangka dalam perkara dugaan fitnah terkait isu tersebut, Rizal Fadillah.
Rizal mempertanyakan kualitas dan metodologi penelitian Rismon yang dianggap berubah drastis dan penuh keraguan sehingga tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Rizal menilai perubahan kesimpulan Rismon yang semula menyatakan ijazah Jokowi palsu dengan margin kesalahan sangat besar menjadi asli menunjukkan kegagalan profesionalisme sebagai peneliti independen.
Menurut Rizal dalam video awal Rismon masih berpegang pada alasan akademik untuk mengajukan Restorative Justice kepada Jokowi dengan menggunakan metode tertentu.
Namun dalam video kedua Rismon menyampaikan enam poin penting termasuk pengakuan menemukan kebenaran baru penarikan buku terkait serta permohonan maaf langsung kepada Jokowi dan Gibran Rakabuming Raka.
"Metode geometrik berupa translasi, rotasi, dan pencahayaan mengubah kesimpulan tentang ijazah UGM Jokowi dari 11 ribu trilyun persen palsu menjadi asli," katanya kepada media pada Sabtu 14 Maret 2026.
Meski demikian Rizal menegaskan masih ada keraguan karena variabel yang dianalisis hanya emboss dan watermark tanpa membahas aspek penting lain seperti foto usia kertas dan tinta.
Rizal juga mengkritik langkah Rismon yang datang ke Solo untuk meminta maaf kepada Jokowi dan Gibran dengan menyebut tindakan tersebut sebagai "sikap mental dari seorang peneliti berkelas kardus atau kerupuk."
Rizal menduga perubahan sikap Rismon bukan semata hasil temuan akademik melainkan akibat tekanan atau ancaman tertentu yang dialaminya.
"Tusukan tajam bunuh diri atau harakiri seperti ini hanya bisa dilakukan orang yang tidak berdaya akibat ancaman atau penyanderaan," jelasnya menggambarkan situasi.
Ia pun menantang agar Rismon mengungkap siapa pihak yang mengeksploitasi dirinya dalam polemik ini dan meminta transparansi terkait ijazah S-3 yang dimilikinya.
Rizal menegaskan pentingnya kejujuran obyektivitas dan keberanian dalam penelitian sebagai fondasi utama integritas seorang akademisi.
Ia menantang semua pihak untuk menunjukkan bukti ijazah asli masing-masing guna mengakhiri gonjang-ganjing yang terjadi di ruang publik.
"Jika bisa teriak tunjukkan ijazah asli Jokowi, maka rakyat dapat juga berteriak tunjukkan ijazah S-3 Rismon!" cetusnya dengan nada tinggi.
"Peneliti yang jujur dan obyektif tidak akan ikut pesanan, lae," tambahnya menegaskan prinsip.
Rizal juga menyoroti bahwa dalam penelitian ilmiah seharusnya tidak ada perubahan drastis tanpa disertai data yang memadai dan dapat diverifikasi oleh publik.
Ia meragukan metodologi yang digunakan Rismon dalam penelitian lanjutan karena hanya berfokus pada dua variabel teknis saja.
Publik menurutnya berhak mengetahui secara transparan seluruh proses penelitian yang dilakukan oleh Rismon dari awal hingga akhir.
Rizal juga menyoroti bahwa Rismon seharusnya tidak perlu datang ke Solo jika memang penelitiannya valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Langkah meminta maaf secara langsung kepada Jokowi dan Gibran menurutnya menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam proses penelitian tersebut.
Ia mengajak publik untuk terus kritis dan tidak mudah percaya pada perubahan sikap yang drastis tanpa disertai penjelasan yang memadai.
Rizal juga mempertanyakan mengapa Rismon tidak menguji aspek-aspek lain dari ijazah seperti usia kertas dan tinta menggunakan metode yang lebih canggih.
Menurutnya penelitian forensik yang komprehensif seharusnya mencakup berbagai aspek tidak hanya terbatas pada emboss dan watermark saja.
Ia juga menyoroti bahwa Rismon sebelumnya sangat percaya diri dengan penelitiannya bahkan mengklaim margin kesalahan 11 ribu trilyun persen.
Perubahan drastis ini menurutnya menunjukkan bahwa Rismon tidak konsisten dan kehilangan kredibilitas sebagai seorang peneliti.
Publik menurut Rizal harus terus mengawal kasus ini agar tidak ada pihak yang memanfaatkan situasi untuk kepentingan tertentu.
Ia juga mengingatkan bahwa perjuangan mencari kebenaran tidak boleh berhenti hanya karena satu pihak berubah sikap.
Masih banyak pihak yang akan terus memperjuangkan transparansi dan keadilan dalam kasus ini.
Rizal menegaskan bahwa perubahan sikap Rismon tidak akan menghentikan upaya untuk mengungkap kebenaran yang sesungguhnya.
Ia mengajak semua pihak untuk tetap fokus pada substansi persoalan yaitu keaslian dokumen akademik yang menjadi hak publik untuk mengetahui.
Dengan semangat kebersamaan Rizal yakin kebenaran pada akhirnya akan terungkap dan keadilan akan ditegakkan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

