Repelita Teheran - Iran dilaporkan telah meluncurkan ribuan drone bunuh diri dan ratusan rudal balistik untuk membalas serangan terhadap Israel dan pangkalan militer maupun aset vital Amerika Serikat berdasarkan data per 11 Maret 2026.
Adapun rinciannya yakni lebih dari 2.100 drone, 500 rudal balistik, dan 20 rudal jelajah yang menyasar berbagai wilayah Teluk termasuk target terkait Israel dan AS sejak konflik meningkat pada 28 Februari 2026.
Serangan balasan ini terus berlanjut di tengah ketegangan yang memanas tanpa tanda-tanda akan segera mereda dalam waktu dekat.
Intelijen mencatat Iran memiliki persediaan ribuan rudal balistik dengan perkiraan awal mencapai lebih dari 3.000 unit yang siap diluncurkan kapan saja.
Serangan balasan yang dilancarkan Korps Garda Revolusi Islam ini telah membuat Amerika mengalami kerugian militer hampir US$2 miliar atau sekitar Rp33,8 triliun akibat kerusakan alutsista.
Kerusakan tersebut meliputi sistem radar dan jet tempur F-15E yang menjadi tulang punggung kekuatan udara AS di kawasan.
Total biaya operasional pekan pertama mencapai US$6 miliar mencakup biaya pengiriman pasukan dan amunisi yang terus mengalir ke kawasan Teluk.
Angka-angka ini didasarkan pada laporan intelijen dan perhitungan regional per Maret 2026 dan intensitas serangan dapat berubah cepat sesuai perkembangan di lapangan.
Pemerintah Iran dikabarkan telah menolak mentah-mentah permintaan dari utusan khusus Amerika Serikat untuk Timur Tengah Steven Witkoff yang datang membawa pesan gencatan senjata.
Disitat dari kanal YouTube Kompas ada dua pesan yang ditolak salah satunya terkait genjatan senjata yang ditawarkan Amerika Serikat sebagai upaya meredakan ketegangan.
Iran melalui Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan bahwa pihaknya tidak mengakui klaim kemenangan sepihak yang digaungkan Washington selama ini.
Alih-alih menyetujui genjatan senjata Teheran justru memberi sinyal untuk melanjutkan gempuran dan mempertahankan kendali penuh di Selat Hormuz.
Republik Islam itu pun menegaskan konflik hanya akan berakhir melalui perjanjian perdamaian yang permanen dengan jaminan tak ada agresi baru terhadap Iran.
Perlawanan yang dilakukan oleh Korps Garda Revolusi Islam juga masih berlangsung dengan melancarkan serangan intens ke wilayah Israel.
Iran dilaporkan melancarkan serangan intens ke wilayah Israel dan aset Amerika Serikat yang tersebar di kawasan Timur Tengah.
Korps Garda Revolusi Islam Iran mengklaim militernya menembakkan rudal terus-menerus selama lebih dari 3 jam tanpa henti ke berbagai sasaran strategis.
Tak hanya itu Teheran juga disebut mengerahkan Rudal Khaibar dalam jumlah terbesar yang pernah dilakukannya sepanjang sejarah konflik.
Militer Iran menegaskan tidak akan menghentikan serangan sampai ancaman benar-benar hilang dari kawasan dan keamanan nasional terjamin.
Serangan ini dilaporkan menghantam sejumlah lokasi strategis termasuk pusat komunikasi dan aset militer Israel serta menyasar fasilitas militer Amerika Serikat di Irak.
Selain itu IRGC juga mengancam untuk memblokir Selat Hormuz bagi kapal-kapal yang terafiliasi dengan AS dan Israel sebagai bentuk tekanan ekonomi.
Presiden AS Donald Trump kembali sesumbar bahwa pihaknya bakal melancarkan serangan 20 kali lebih berat terhadap Iran jika rute strategis itu masih diblokade.
Namun IRGC membalas tekanan tersebut dengan ancaman untuk terus melakukan blokade sampai Amerika Serikat benar-benar menghentikan serangannya ke Teheran.
Blokade ini pun membuat ratusan kapal industri dan minyak terpaksa menunda pelayarannya di tengah laut akibat ketidakpastian keamanan.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani juga telah menegaskan bahwa pihaknya tak akan kompromi dengan AS dalam bentuk apapun.
"Kami tidak akan bernegosiasi dengan AS," tegasnya memberikan sikap resmi Tehran yang semakin keras di bawah kepemimpinan baru.
Ali juga mengkritik pernyataan Presiden AS Donald Trump tentang negaranya dan menyebut Trump khawatir dampak kerugian dari tindakannya menyerang Teheran.
"Dia sekarang khawatir tentang kerugian lebih lanjut dari tentara Amerika. Dengan delusinya sendiri, dia telah mengubah slogan 'Amerika Pertama' menjadi 'Israel Pertama' dan mengorbankan pasukan Amerika untuk nafsu kekuasaan Israel," sindir Ali.
Sementara itu pejabat militer Iran mengatakan mereka akan terus menyerang aset AS di kawasan tersebut serta posisi Israel di wilayah pendudukan.
"Kami telah memutuskan bahwa kami tidak akan mundur atau membiarkan Amerika Serikat pergi tanpa konsekuensi. Kami tidak akan menghentikan perang ini," kata Wakil Komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Brigadir Jenderal Kiomars Heidari.
Menurutnya Iran akan terus melanjutkan perang hingga lautan dipenuhi peti mati perwira, bintara, dan tentara AS yang dikirim kembali ke Amerika Serikat.
“Bagi kami, tidak masalah berapa lama perang ini berlangsung. Kami sudah pernah mengalami perang delapan tahun sebelumnya. Kami akan mengakhiri perang ini hanya ketika kami telah mencapai tujuan kami dan memaksa musuh untuk menyesali tindakan memalukannya,” tegas Heidari.
Para pejuang Garda Revolusi terekam kamera menuliskan nama-nama syuhada dari Sekolah Minab pada badan rudal raksasa sebelum diluncurkan ke jantung pertahanan musuh.
Mereka menuliskan nama para siswi yang tewas dalam serangan rudal AS sebagai bentuk pembalasan atas darah anak-anak yang tak berdosa.
Setiap hantaman ledakan di Tel Aviv menjadi jawaban atas duka para ibu di Minab yang kehilangan putri-putri mereka dalam tragedi memilukan itu.
Ini bukan lagi soal politik semata melainkan soal harga diri dan pembalasan atas darah anak-anak yang gugur secara tidak adil.
Serangan balasan Iran terus dilancarkan dengan semangat membela kehormatan bangsa dan membalaskan dendam para syuhada yang telah gugur.
Dunia internasional terus memantau perkembangan eskalasi konflik yang semakin kompleks dan berpotensi meluas ke seluruh kawasan Timur Tengah.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

