![]()
Repelita Tel Aviv - Putra Menteri Keuangan sayap kanan Israel, Bezalel Smotrich, terluka parah dalam serangan mortir yang diduga dilakukan Hizbullah terhadap posisi tentara Israel di dekat perbatasan Lebanon.
Serangan tersebut juga melukai delapan tentara Israel lainnya yang bertugas di wilayah perbatasan utara yang memanas.
Dalam tulisannya di platform X, Smotrich mengungkapkan bahwa putranya, Benya Hebron, mengalami luka serius setelah serpihan mortir menembus punggung dan perutnya.
Salah satu serpihan bahkan menembus hati Hebron dan berhenti di dinding pembuluh darah terbesar di perutnya sehingga membutuhkan penanganan medis darurat.
Ia segera dilarikan ke rumah sakit terdekat dan sang menteri menyampaikan harapannya agar ia pulih dan kembali sehat sepenuhnya serta bergabung kembali dengan tentara Israel, seperti dilansir The New Arab, Rabu, 11 Maret 2026.
Stasiun televisi Israel, Kan, pertama kali melaporkan cedera tersebut pada 6 Maret lalu, mengatakan bahwa putra Smotrich terluka di sepanjang perbatasan utara Lebanon.
Tidak banyak yang diketahui tentang Hebron, selain bahwa ia adalah seorang tentara Israel yang bertugas di Brigade Golani, unit elit militer Israel.
Para pejuang Hizbullah melakukan serangkaian serangan terhadap Israel dan pasukannya menuju Dataran Tinggi Golan yang diduduki dan wilayah Haifa pada 6 Maret.
Serangan tersebut melukai lima tentara secara serius di tengah serangan lintas batas yang lebih luas menyusul perang gabungan Amerika dan Israel terhadap Iran.
Kelompok Lebanon tersebut melancarkan serangan terhadap Israel setelah jeda 15 bulan, sebagai balasan atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Israel telah melakukan serangan hampir setiap hari terhadap Lebanon sebelum penembakan oleh Hizbullah, meskipun ada perjanjian gencatan senjata dengan Hizbullah yang mulai berlaku pada November 2024.
Smotrich sendiri telah mendukung serangan terbaru Israel terhadap Lebanon, yang telah menewaskan sedikitnya 486 orang termasuk puluhan anak-anak.
Ia menggambarkan kampanye militernya sebagai kesempatan untuk mengamankan perbatasan utara Israel secara permanen dengan merebut zona keamanan yang luas di selatan Sungai Litani.
Smotrich sempat menuai kecaman karena beberapa pernyataannya yang rasis terhadap Palestina maupun negara yang mendukung kemerdekaan Palestina.
Teranyar Smotrich sampai kena batunya hingga meminta maaf ke Arab Saudi setelah menyatakan bahwa Arab Saudi bisa terus menunggang unta jika tetap menjadikan pembentukan negara Palestina merdeka sebagai syarat normalisasi hubungan dengan Israel.
Pernyataan ini dianggap menghina sekaligus berpotensi menghambat upaya diplomatik antara kedua negara yang sedang berlangsung.
Menyadari ucapannya berbahaya, Smotrich kemudian meminta maaf dan mengakui bahwa komentarnya tidak pantas dan menyatakan penyesalan jika telah menyinggung pihak mana pun.
"Pernyataan saya tentang Arab Saudi tidak pantas, dan saya menyesal jika hal itu menyinggung pihak mana pun," ujarnya, dikutip dari Anadolu.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

