Repelita Jakarta - Sistem pertahanan udara Iron Dome Israel yang bernilai sekitar enam ratus triliun rupiah mengalami kegagalan total pada malam 2 Maret 2026 setelah berhasil ditembus oleh drone Shahed Iran yang harganya hanya sekitar dua ratus juta rupiah serta rudal hipersonik Fattah-2.
Iron Dome yang selama ini dianggap sebagai simbol superioritas teknologi Barat jebol akibat strategi serangan saturasi yang dilancarkan Iran dengan meluncurkan ribuan drone murah sebagai umpan terlebih dahulu.
Drone-drone tersebut memaksa sistem interceptor Iron Dome menghabiskan amunisi mahal sebelum rudal utama berkecepatan Mach sepuluh menghantam target presisi seperti pangkalan udara markas Mossad dan pusat komando militer.
Strategi Iran yang mengandalkan efisiensi tinggi ini berhasil menguras sumber daya musuh dengan biaya minimal sehingga menunjukkan kekuatan perang asimetris dalam bentuk paling nyata.
Pangkalan udara Nevatim dan Tel Nof Israel dilaporkan mengalami kerusakan parah pada landasan pacunya sehingga pesawat tempur F-35 yang bernilai triliunan rupiah menjadi tidak dapat lepas landas dan terjebak di hangar.
Pangkalan Amerika Serikat di Ali Al Salem Kuwait serta Al Udeid Qatar juga mengalami kelumpuhan serupa dengan infrastruktur yang hancur akibat hantaman rudal balistik yang tepat sasaran.
Insiden tembakan sesama sendiri terjadi ketika tiga pesawat F-15 jatuh akibat rudal Patriot milik pasukan sendiri karena kegagalan identifikasi teman atau musuh di tengah kekacauan elektronik warfare.
Stok rudal Tomahawk Amerika Serikat menipis drastis sehingga Pentagon menghadapi dilema kesiapan operasional antara Timur Tengah dan kawasan Pasifik.
Puluhan pesawat pengangkut medis C-17 dan C-5 terlihat beroperasi nonstop mengangkut korban dari Teluk ke Eropa yang mengindikasikan jumlah personel terdampak jauh lebih besar daripada klaim resmi.
Donald Trump meminta gencatan senjata melalui Italia bukan dari posisi kuat melainkan dalam keadaan terdesak setelah kegagalan pertahanan yang tidak terduga.
Iran menolak gencatan senjata kecuali seluruh pangkalan Amerika Serikat di kawasan Teluk dikosongkan sementara penutupan Selat Hormuz mengancam pasokan energi dunia hingga dua puluh persen.
Harga minyak global diprediksi melonjak ke kisaran seratus lima puluh hingga dua ratus dolar per barel yang berdampak langsung pada ekonomi negara pengimpor termasuk Indonesia.
Konflik ini menegaskan bahwa superioritas teknologi tidak selalu menjamin kemenangan ketika dihadapi strategi efisien serta semangat juang tinggi dari pihak lawan.
Pelajaran bagi Indonesia adalah urgensi pengembangan teknologi pertahanan mandiri agar tidak bergantung pada sistem asing yang berpotensi dikendalikan atau dinonaktifkan pihak lain.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

