Repelita Jakarta - Pemerintah Amerika Serikat mengakui adanya kesalahan taktis dalam menghadapi ancaman drone Shahed milik Iran yang mulai digunakan secara intensif dalam konflik terbaru di Timur Tengah dan menimbulkan tantangan baru bagi sistem pertahanan udara AS dan sekutunya di kawasan.
Drone Shahed merupakan pesawat nirawak tipe kamikaze yang dirancang untuk menghantam target dengan membawa bahan peledak, dengan varian paling dikenal adalah Shahed 136 yang pertama kali terlihat pada Juli 2021.
Drone ini dikembangkan oleh Shahed Aviation Industries Research Center di Iran dan memiliki bentuk menyerupai segitiga dengan panjang sekitar 3,5 meter dan bentang sayap sekitar 2,5 meter.
Shahed-136 memiliki bobot sekitar 200 kilogram dan mampu melaju dengan kecepatan maksimal sekitar 185 kilometer per jam dengan jarak tempuh hingga 2.500 kilometer.
Pesawat nirawak ini dilengkapi baling-baling pendorong di bagian belakang serta membawa hulu ledak eksplosif sekitar 50 kilogram yang cukup untuk merusak bangunan besar.
Salah satu karakteristik utama drone ini adalah kemampuannya terbang rendah untuk menghindari deteksi radar, dan sebelum diluncurkan biasanya diprogram mengikuti jalur penerbangan kompleks menuju target.
Drone Shahed-136 telah lebih dahulu digunakan oleh Rusia dalam perang melawan Ukraina sejak musim gugur 2022 setelah Iran membagikan desainnya sehingga Rusia dapat memproduksinya sendiri dalam jumlah besar .
Dalam sejumlah serangan Rusia diketahui meluncurkan drone tersebut secara berkelompok hingga ratusan unit sekaligus bersama drone pengalih perhatian dan rudal untuk melemahkan pertahanan udara lawan .
Drone ini paling efektif digunakan terhadap target statis, terutama infrastruktur utilitas seperti pembangkit listrik atau fasilitas energi yang pernah memicu krisis di Ukraina.
Sejumlah analis menyebut keunggulan utama Shahed bukan terletak pada teknologi canggih, melainkan pada biaya produksi yang relatif murah dan kemampuannya diproduksi secara massal.
Analis dari Proyek Pertahanan Rudal di Center for Strategic and International Studies di Washington DC, Patrycja Bazylczyk, mengatakan penggunaan drone murah dalam jumlah besar dapat menciptakan tekanan biaya bagi lawan.
Menurutnya setiap drone yang ditembak jatuh memaksa pihak yang bertahan menggunakan interceptor yang jauh lebih mahal, menciptakan ketidakseimbangan ekonomi perang .
Harga satu unit drone Shahed diperkirakan berada di kisaran 20.000 hingga 50.000 dolar AS atau sekitar Rp338 juta hingga Rp845 juta, sementara satu rudal jelajah atau rudal balistik dapat bernilai jutaan dolar AS .
Sistem pertahanan udara yang digunakan sejumlah negara di Timur Tengah dan Israel memiliki harga antara 3 juta hingga 12 juta dolar AS per unit, menciptakan rasio biaya yang sangat timpang .
Di Indonesia pembahasan mengenai harga drone Shahed turut memicu perbandingan di media sosial dengan robot anjing polisi atau K-9 milik Polri yang diperkenalkan dalam perayaan HUT Bhayangkara ke-79 di Monumen Nasional Jakarta pada 1 Juli 2025 .
Robot anjing itu diklaim dapat mendukung berbagai fungsi kepolisian mulai dari pengawasan lokasi berbahaya, penjinakan bahan peledak, hingga operasi pencarian dan penyelamatan korban bencana.
Selain itu robot tersebut juga disebut mampu membantu pengumpulan bukti forensik, patroli berbasis pengenalan wajah, serta deteksi bahan berbahaya seperti narkotika atau bahan kimia.
Menurut pengembangnya dari PT EZRA Robotics Teknologi, harga satu unit robot anjing tersebut diperkirakan hampir mencapai Rp3 miliar, jauh lebih mahal dibanding drone Shahed Iran .
Perbandingan harga tersebut kemudian memicu berbagai komentar warganet di media sosial yang menyoroti perbedaan harga meskipun keduanya memiliki fungsi dan tujuan yang berbeda.
"Drone Iran 300 juta, masuk Indonesia kena cukai 2,680 m, jadi sama aja 3 milyar," komentar seorang warganet di unggahan akun Instagram @voxantaranews.
"Gimana ya kalau Indonesia perang, hari pertama perang udah bangkrut negara," kata warganet lain di postingan yang sama.
"Bayangin kapal US otw nyerang kita & dicegatnya pake robot anjing tersebut," celetuk warganet lainnya.
"Kalkulasi satu Robot anjing, dapat drone 10," sebut warganet lain menyoroti ketimpangan biaya.
Perbandingan ini menjadi viral setelah akun @nowdots mengunggahnya, dengan warganet menyebut perbedaan seperti "liga profesional lawan pertandingan amatir" .
Drone Shahed telah menimbulkan kerusakan signifikan di Timur Tengah dengan serangan ke Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab, termasuk menghantam hotel mewah di Palm Jumeirah Dubai .
Di Qatar terminal ekspor LNG terbesar dunia terpaksa ditutup setelah menjadi target serangan drone, sementara kilang minyak terbesar Arab Saudi di Ras Tanura juga停产 akibat serangan .
Ahli drone peperangan Seth Frantzman mengatakan drone Shahed memberi Iran sistem senjata murah yang mirip dengan angkatan udara, mampu menghindari sistem pertahanan mahal dan menyebabkan kekacauan .
Mick Mulroy, mantan pejabat pertahanan AS, mengatakan drone tersebut terbukti sangat efektif sehingga AS mengembangkan versi sendiri bernama Lucas yang telah digunakan dalam konflik ini .
AS mengaku telah menggunakan drone versi Lucas untuk pertama kalinya dalam pertempuran, mengambil desain Iran dan menembakkannya kembali ke Iran .
Iran telah meluncurkan lebih dari 1.000 drone ke UEA sejak konflik dimulai, dengan hanya 71 yang berhasil menembus pertahanan, namun setiap intersepsi membutuhkan biaya mahal .
Jenderal Dan Caine pejabat militer tertinggi AS mengatakan jumlah drone yang diluncurkan Iran turun 73 persen sejak hari pertama pertempuran, sementara penggunaan rudal balistik turun 86 persen .
Nicholas Carl, pakar Iran di American Enterprise Institute, mengatakan Iran berusaha menimbulkan teror dan tekanan psikologis untuk memaksa Trump menyetujui gencatan senjata .
Namun Iran diyakini telah memproduksi puluhan ribu drone Shahed sebelum perang, meskipun tidak diketahui berapa banyak yang tersisa setelah serangan AS-Israel .
Video yang dirilis kantor berita Fars yang berafiliasi dengan IRGC menunjukkan barisan drone di bunker bawah tanah, namun tidak diketahui kapan video itu direkam .
Drone Shahed terus menjadi momok bagi sistem pertahanan udara mahal AS dan sekutunya di Timur Tengah, memaksa mereka memikirkan ulang strategi pertahanan udara di era perang asimetris.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

