
Repelita Jakarta - Usai pertemuan selama empat jam dengan Presiden Prabowo Subianto mantan Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu membongkar informasi penting terkait nasib mantan Presiden Joko Widodo dan dominasi oligarki di Indonesia.
Said Didu menggambarkan malam pertemuan itu sebagai momen luar biasa yang menandakan keresahan soal kedaulatan juga dirasakan di level pimpinan tertinggi negara.
Ia menegaskan agenda utama yang dibawanya adalah mengonsolidasikan kekuatan di luar pemerintahan untuk merebut kembali kedaulatan rakyat yang menurutnya telah lama diperdagangkan oleh segelintir pihak.
Negara digambarkannya seperti pasar raksasa di mana kedaulatan bukan lagi nilai suci melainkan komoditas yang diperjualbelikan secara terbuka.
Partai politik disebut sebagai mall pedagang kedaulatan diikuti parlemen dan berbagai jaringan kekuasaan yang turut serta dalam praktik serupa.
Oligarki menurut Said hanya sekitar enam puluh orang namun memiliki kekayaan dan pengaruh luar biasa yang mampu mengendalikan ratusan juta rakyat Indonesia.
Ketimpangan kekayaan semakin nyata di mana segelintir orang semakin kaya sementara kemiskinan rakyat justru semakin meluas.
Gedung DPR yang seharusnya menjadi rumah wakil rakyat kini berubah menjadi etalase tempat kedaulatan diperdagangkan melalui regulasi konsesi sumber daya dan akses keuangan.
Said Didu menegaskan bahwa pimpinan negara yang ditemuinya mengakui kedaulatan Indonesia telah dirampas dan pengembaliannya memerlukan partisipasi aktif rakyat secara masif.
Ia menolak posisi sebagai oposisi terhadap program pemerintah melainkan menentang siapa pun yang menghalangi upaya pengembalian kedaulatan di sektor ekonomi hukum politik wilayah dan sumber daya alam.
Said mengajak melupakan sekat identitas afiliasi dan perbedaan lalu menyatukan satu tujuan utama yaitu melawan oligarki serta merebut kembali kedaulatan yang telah lama diserahkan.
Ia mengakui perjuangan tersebut tidak akan mudah akan ada benturan perbedaan pendekatan dan kelelahan di tengah jalan.
Namun pertemuan malam itu menjadi sinyal kuat bahwa wacana kedaulatan telah memasuki fase baru di mana keresahan rakyat dan kegelisahan kekuasaan bertemu dalam satu ruang yang sama.
Editor: 91224 R-ID Elok

