
Repelita Yogyakarta - Pengamat politik Rocky Gerung kembali melontarkan kritik keras terhadap mekanisme seleksi kepemimpinan di Indonesia yang dinilainya lebih banyak melahirkan pedagang kekuasaan daripada pemimpin bermutu.
Pernyataan tersebut disampaikan Rocky dalam Public Lecture Series 002 yang diselenggarakan komunitas Pandu Negeri di kawasan Embung Giwangan Yogyakarta pada Senin 16 Februari 2026.
Di hadapan ratusan mahasiswa ia menegaskan bahwa ukuran elektabilitas yang selama ini menjadi patokan utama dalam kontestasi politik tidak cukup untuk menilai kualitas seorang calon pemimpin.
Rocky memperkenalkan dua parameter yang menurutnya jauh lebih esensial yaitu ethicability yang berkaitan dengan integritas dan intellectuality yang menyangkut kedalaman pemikiran.
Ia menyatakan “Elektabilitas itu angka Angka bisa diproduksi bahkan bisa dibeli Tapi ethicability itu menyangkut integritas Itu tidak bisa direkayasa lewat panggung hiburan atau survei”.
Menurut Rocky kampus harus menjadi ruang uji yang paling tepat dan sesungguhnya bagi setiap calon pemimpin yang ingin dipercaya memimpin bangsa.
Ia menilai forum akademik jauh lebih relevan untuk mengukur kapasitas berpikir serta ketangguhan argumentasi dibandingkan sekadar mengandalkan popularitas di ruang publik.
Rocky menyerukan agar calon pemimpin berani datang ke kampus menghadapi mahasiswa serta bersedia diuji secara terbuka tanpa menghindari debat kritis.
Ia menegaskan “Kalau mau jadi pemimpin datang ke kampus Hadapi mahasiswa Biarkan diuji secara terbuka Jangan justru menghindari debat karena takut dikritik Justru di situ terlihat kualitasnya”.
Rocky menyindir kecenderungan sebagian kandidat yang lebih mengutamakan pencitraan ketimbang substansi gagasan sehingga melahirkan politik transaksional yang ia sebut sebagai gejala pedagang kekuasaan.
Ia juga mengkritik kondisi pendidikan tinggi yang menghasilkan surplus lulusan bergelar tinggi namun defisit nilai moral serta keberanian kritis dalam kehidupan berbangsa.
Rocky menyebut kondisi tersebut sebagai paradoks surplus ijazah tapi defisit nilai yang akhirnya mempengaruhi kualitas kebijakan publik secara keseluruhan.
Ia mengingatkan bahwa kampus tidak boleh kehilangan fungsinya sebagai benteng terakhir kritik dan pertahanan akal sehat publik.
Rocky menegaskan sebelum berbicara soal peluang menang dalam survei masyarakat seharusnya lebih dulu memastikan kualitas etik dan intelektual para calon pemimpinnya.
Ia menutup pemaparannya dengan peringatan bahwa jika kampus pun ikut tunduk pada rayuan kekuasaan maka tidak ada lagi yang menjaga nalar sehat bangsa ini.
Senada dengan Rocky Guru Besar Prof Sugeng Bayu Wahyono yang menjadi penanggap menegaskan pentingnya pemimpin yang mampu melampaui kepentingan partai dan lingkaran keluarga.
Prof Sugeng menyatakan bahwa tanpa ujian keras di ruang intelektual seperti kampus Indonesia hanya akan terus terjebak dalam siklus kepemimpinan transaksional para dealer kekuasaan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

