Repelita Jakarta - Ajakan debat terbuka antara Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai dan Guru Besar Hukum Universitas Gadjah Mada Zainal Arifin Mochtar alias Uceng semakin ramai dibicarakan di berbagai platform media sosial.
Kedua tokoh itu saling melempar pernyataan keras terkait isu hak asasi manusia hingga muncul usulan untuk menggelar perdebatan secara langsung di stasiun televisi dengan tema HAM.
Pengamat politik Rocky Gerung melalui kanal YouTube pribadinya menilai wacana debat semacam itu tidak tepat dan kurang memiliki nilai substansial.
Menurutnya pertemuan antara dua figur yang sama-sama berkecimpung di bidang HAM berisiko lebih mengutamakan unsur sensasi daripada pembahasan mendalam yang bermakna.
Rocky menyebut situasi ini sebagai berita yang sangat absurd karena keduanya bergerak di ranah keilmuan serta kepedulian yang serupa sehingga perdebatan tersebut tidak memberikan kontribusi berarti.
Ia khawatir pelaksanaan debat akan memicu polarisasi opini di kalangan masyarakat yang lebih luas.
Rocky menegaskan bahwa pembahasan hak asasi manusia seharusnya dilakukan melalui forum akademis serta proses penyusunan regulasi yang serius bukan dipertontonkan sebagai konsumsi publik yang bersifat hiburan.
Ia menambahkan bahwa diskursus HAM memang krusial namun tidak boleh dijadikan ajang kompetisi adu argumen di ruang terbuka yang berpotensi menimbulkan sensasionalisme.
“Ini hanya upaya mengisi kekosongan diskursus publik, tapi jangan pakai isu HAM,” ujarnya.
Rocky Gerung mendorong agar isu hak asasi manusia dibahas dengan cara yang lebih bermartabat dan mendalam dengan fokus utama pada penguatan kerangka hukum serta penghormatan terhadap prinsip-prinsip universal HAM.
“Sekali lagi, berita yang beredar di media sosial itu pasti kompor dengan kompor. Tidak bagus dan tidak bermutu secara akademis maupun kebijakan. Kita sedang berupaya membuat regulasi yang benar-benar berbasis penghormatan terhadap hak asasi manusia,” pungkasnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

