
Repelita Tepi Barat - Kesucian bulan Ramadan kembali ternoda akibat aksi kekerasan sistematis yang menimpa warga sipil di wilayah pendudukan Tepi Barat.
Bukannya mendapatkan ketenangan ibadah masyarakat justru dihadapkan pada teror nyata dari pasukan pendudukan.
Sejak fajar Ramadan tahun ini lebih dari seratus warga sipil ditangkap secara paksa dalam serangkaian penggerebekan brutal.
Laporan dari Masyarakat Tahanan Palestina mengungkap fakta memilukan sejak delapan belas Februari dua ribu dua puluh enam.
Pasukan pendudukan melakukan penyerbuan gencar ke berbagai kota termasuk wilayah al-Quds tanpa pandang bulu.
Mereka yang diringkus mencakup anak-anak perempuan hingga mantan tahanan yang baru saja bebas.
Penangkapan kali ini bukan sekadar prosedur hukum formal melainkan bentuk terorisme terorganisir menurut saksi dan lembaga hak asasi manusia.
Dalam setiap penyergapan kekerasan fisik berupa pemukulan parah menjadi hal lumrah sebagai upaya intimidasi.
Tidak berhenti di situ rumah-rumah warga dirusak secara luas tanpa alasan jelas.
Pihak pendudukan juga menyita kendaraan uang tunai hingga perhiasan emas milik warga sipil.
Tindakan tersebut lebih mirip perampokan massal di bawah kedok operasi keamanan.
Hingga kini populasi tahanan di penjara-penjara Israel membengkak mencapai sembilan ribu tiga ratus orang.
Angka itu mencakup tiga ratus lima puluh anak-anak dan enam puluh enam perempuan yang mendekam di balik jeruji.
Banyak di antara mereka ditahan tanpa proses persidangan sah atau dakwaan jelas.
Mereka terjebak dalam kebijakan penahanan administratif yang memungkinkan penahanan tanpa batas waktu dan tanpa bukti kuat.
Di dalam penjara kondisi mereka sangat memprihatinkan dengan kelaparan penyiksaan serta ketiadaan layanan medis.
Akibatnya gelombang kematian tahanan terus meningkat secara signifikan.
Penggerebekan masif di Tepi Barat ini merupakan perpanjangan pola penindasan yang meningkat tajam sejak pecahnya perang genosida di Jalur Gaza tahun dua ribu dua puluh tiga.
Tepi Barat kini tak ubahnya penjara terbuka di mana setiap detik warga dihantui suara sepatu lars dan dobrakan pintu rumah oleh pasukan bersenjata.
Dunia internasional terus bersuara namun di lapangan kekerasan seolah tak mengenal rem.
Ramadan yang seharusnya penuh rahmat bagi warga di sana justru menjadi ujian kesabaran ekstrem di bawah bayang-bayang moncong senjata.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

