
Repelita Jakarta - Heru Subagia, seorang pengamat politik dan ekonomi, membuat klaim mengejutkan terkait sosok "Bapak J" yang kerap diperbincangkan di internal Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Ia meyakini bahwa sosok misterius tersebut tidak lain adalah Presiden Joko Widodo.
Keyakinan ini muncul setelah ia menyaksikan langsung Jokowi berbicara dalam Rakernas PSI di Makassar pada akhir Januari lalu.
Heru mengungkapkan bahwa keyakinannya memiliki dasar yang kuat.
Ia mengaku telah beberapa kali bertemu dan berdiskusi langsung dengan Jokowi dalam suasana santai di Solo.
Pertemuan-pertemuan itulah yang membuatnya yakin.
“Sesuai dengan prediksi, sebenarnya saya meyakini seribu persen bahwa yang dimaksud Mister atau Bapak J itu adalah Jokowi,” ucap Heru kepada fajar.co.id, Minggu (1/2/2026).
Menurutnya, pembicaraan mereka berlangsung akrab dan terbuka.
Tidak hanya mengenai isu-isu panas seperti polemik ijazah, tetapi juga mengenai peta politik kekinian.
Dari situlah ia mendapatkan gambaran.
“Hal ini didasari dari pembicaraan yang cukup intim ketika kita bersilaturahmi untuk kesekian kali di Solo,” jelasnya.
Dalam pertemuan itu, Jokowi disebut menyampaikan kalkulasi politik yang sangat realistis untuk PSI.
Bahkan, mantan presiden itu konon sempat mengungkap potensi lonjakan elektabilitas partai jika dirinya terlibat secara formal.
“Salah satu isu di luar konteks polemik ijazah, kami juga sempat berbicara dan di situ Pak Jokowi menunjukkan secara jelas mengatakan kalkulasi politik kekinian,” ungkap Heru.
Jokowi mengungkapkan dua skenario utama.
Pertama, jika ia ditunjuk sebagai Ketua Umum.
Kedua, jika ia duduk sebagai Ketua Dewan Pembina.
Keduanya menjanjikan ledakan suara.
“Seandainya dirinya ditunjuk sebagai Ketua Umum, tentunya PSI akan meledak elektabilitasnya hingga 20 persen,” tuturnya.
“Dan Pak Jokowi pada waktu itu menyampaikan bahwa jika dirinya ditunjuk sebagai Ketua Dewan Pembina, PSI akan meledak beberapa kali perolehan suaranya ketimbang Pilpres sebelumnya,” lanjut Heru.
Proyeksi ini, kata Heru, selaras dengan target tiga kali lipat suara yang disebut Jokowi dalam pidatonya di Rakernas PSI untuk Pemilu 2029.
Baginya, ini wajar saja karena pengaruh Jokowi di tingkat akar rumput masih sangat kuat.
“Menurut saya ini sangat rasional karena Pak Jokowi kembali mengatakan jika seandainya ditunjuk Ketua Dewan Pembina, akan menjadi kuat PSI,” ujarnya.
Heru mengaku merasakan semangat luar biasa dari Jokowi saat membicarakan masa depan PSI.
Suasana pertemuan tertutup itu begitu hidup.
“Jadi, intinya dalam pembicaraan kita bersama Pak Jokowi, saya sampai berbisik-bisik karena Pak Jokowi sebenarnya pada waktu itu menjual PSI di depan kita dengan semangat menyala,” katanya.
Alumni Fisipol UGM 1996 ini menilai dinamika ini akan menciptakan gelombang kontestasi politik baru yang seru.
Sorotan tidak hanya pada PSI dan Jokowi, tetapi juga pada gerakan lain seperti yang digawangi Anies Baswedan.
“Tentunya ini menjadi sebuah gelombang kontestasi politik yang luar biasa, tidak hanya Jokowi yang hiruk-pikuknya berkaitan dengan PSI, ada juga Anies Baswedan dengan Gerakan Rakyat,” tandasnya.
“Dan yang menjadi platform adalah Anies yang sangat melekat di Gerakan Rakyat,” kuncinya.
Komitmen Jokowi sendiri memang tidak main-main.
Dalam Rakernas PSI di Hotel Claro, Makassar, Sabtu (31/1/2026), ia dengan tegas menyatakan kesiapannya bekerja habis-habisan untuk partai berlambang matahari terbit itu.
Ia mengungkapkan telah berdiskusi dengan pimpinan PSI untuk menyelesaikan struktur kepengurusan.
Targetnya, semua harus rampung paling lambat akhir 2026.
“Saya ngomong-ngomong dengan ketua pembina, ketua umum, kapan ini bisa kita selesaikan dan harus kita selesaikan.
Akhir 2026 itu harus selesai,” kata Jokowi.
Alasannya jelas, PSI punya target politik besar, sehingga membutuhkan mesin partai yang besar dan solid pula.
Struktur tidak boleh cuma jadi formalitas di atas kertas.
“Karena kita perlu mesin-mesin kita, memberikan mesin besar.
Karena target PSI adalah target yang besar.
Targetnya tinggi, jadi mesinnya harus mesin besar,” ucapnya.
Jokowi menekankan, struktur harus dibangun hingga ke level paling bawah.
Tidak cukup sampai tingkat DPD provinsi saja.
“Tidak bisa struktur hanya sampai DPD.
Struktur harus sampai desa, RT/RW.
Karena kekuatan partai politik itu terletak pada struktur yang kuat,” tegasnya.
Lebih dari itu, struktur itu harus hidup dan benar-benar bekerja menyentuh masyarakat.
Itulah struktur ideal yang ia maksud.
Tak cuma berwacana, Jokowi menyatakan kesanggupannya turun langsung.
Ia mengaku masih sanggup berkeliling ke daerah-daerah untuk membantu membangun struktur PSI.
“Kalau diperlukan saya harus datang, saya masih sanggup.
Saya masih sanggup datang ke provinsi-provinsi, ke kabupaten kota, kalau perlu sampai ke kecamatan saya masih sanggup,” imbuhnya.
Dengan jumlah 38 provinsi, 514 kabupaten/kota, dan sekitar 7.000 kecamatan, itu bukan tugas ringan.
Tapi ia bersikeras.
“Kita ini punya 38 provinsi, 514 kabupaten kota, dan kira-kira 7.000 kecamatan.
Saya masih sanggup,” Jokowi menuturkan.
Di akhir pernyataannya, ia menyamakan militansinya dengan kader PSI.
Komitmennya bulat.
“Saudara-saudara bekerja keras untuk PSI.
Saya pun akan bekerja keras untuk PSI.
Saudara-saudara bekerja mati-matian untuk PSI, saya akan bekerja mati-matian untuk PSI,” tegas Jokowi.
Kerja habis-habisan itu, menurut Presiden dua periode ini, mutlak diperlukan.
Indonesia butuh partai politik yang baik dan berorientasi pada rakyat.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

