
Repelita Jakarta - Pengamat politik dan ekonomi Heru Subagia memberikan analisis tajam terhadap respons Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka terkait wacana Pilpres 2029.
Menurutnya, penegasan Gibran untuk fokus mendukung program Presiden Prabowo Subianto hingga akhir masa jabatan merupakan sinyal politik yang penting.
"Pada akhirnya hubungan Jokowi-Gibran dan PAN saat ini harus berpisah dengan sangat meyakinkan," ujar Heru melalui keterangan tertulis pada Senin, 9 Februari 2026.
Heru memprediksi bahwa Partai Amanat Nasional akan menghadapi tekanan politik dan psikologis yang besar dalam waktu dekat.
"Bahkan hitung-hitungan politik pun akan segera terungkap. Pada waktunya nanti PAN betul-betul akan menderita secara psikologis," lanjutnya.
Ia bahkan meragukan masa depan PAN di parlemen jika ambang batas parlemen tetap di atas empat persen.
"PAN diyakini akan terpuruk dan tidak mempunyai wakil di parlemen ketika Parlemen Threshold harus di atas 4 persen," tegas Heru.
Heru melontarkan kritik keras terhadap arah politik PAN yang dinilainya telah berubah dari partai intelektual menjadi partai transaksional.
"Jadi saya pikir inilah kesalahan terbesar PAN, bukan lagi Partai orang pintar cuma Partai broker, kartel, oportunis, dan tidak layak menyematkan dirinya sebagai kumpulan akademisi dan cendekiawan," katanya.
Analisis ini turut menyoroti hubungan transaksional antara mantan Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden Gibran, dengan Partai Amanat Nasional.
Heru menyebut adanya pola tawar-menawar politik di antara ketiga pihak tersebut yang saling mempengaruhi.
"Kembali saya singgung bargaining politik Jokowi, Gibran, dan PAN," ucap Heru.
Ia memberikan contoh konkret dengan mengutip perolehan kursi PAN di Jawa Tengah pada pemilihan umum 2024.
"Namun, dengan adanya beberapa catatan, PAN di Jateng memperoleh dukungan maksimal terutama dari pak Jokowi dan Gibran," jelas Heru.
Menurutnya, perpindahan dukungan PAN pada Pilpres lalu tidak lepas dari kalkulasi politik elite partai.
"Berkaitan PAN pada akhirnya harus hijrah dengan kalkulasi politik tertentu, pedagang, pada Pilpres kemarin mau tidak mau harus mengikuti kemauan pedagang dalam hal ini Zulkifli Hasan untuk mendukung Prabowo-Gibran," imbuhnya.
Heru juga menyinggung strategi politik Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan dalam membangun kedekatan dengan Jokowi dan Gibran.
"Perlu saya jelaskan, saya betul-betul mengamati Zulkifli Hasan dan bagaimana cara jahatnya memperoleh perhatian khusus Jokowi dan Gibran," katanya.
Ia mengungkapkan dinamika internal PAN pada Kongres Kendari 2020 yang disebut tidak lepas dari dukungan Jokowi.
"Saya melihat pendekatan Zulkifli Hasan cukup lihai, ketika konon dalam Kongres Kendari 2020, ada selintingan perebutan kekuasaan kubunya Amien Rais didalangi, salah satunya Zulkifli Hasan isunya memperoleh dukungan membludak dari Jokowi," ungkap Heru.
Kedekatan itu berujung pada hadiah politik berupa kursi Menteri Perdagangan yang diberikan kepada Zulkifli Hasan.
"Dalam proses kelahiran dan posisi politik PAN pada akhirnya diberikan hadiah politik oleh Jokowi dalam bentuk satu kursi Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan," bebernya.
"Inilah barter awal politik hubungan Zulkifli Hasan dan Jokowi cukup dekat," tambah Heru.
Menurut Heru, PAN terus memperkuat koneksi dengan Jokowi selama berada dalam lingkar kekuasaan.
"PAN selalu memperdalam koneksitas dengan Jokowi ketika mereka berada dalam satu kekuasaan. Bahkan di dalam perjalanan politiknya Jokowi pernah dianggap panglimanya PAN," kuncinya.
Analisis Heru Subagia ini memberikan gambaran kompleks mengenai hubungan politik antara kekuasaan eksekutif dengan partai politik di Indonesia.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

