
Repelita Jakarta - Komentar resmi dari akun media sosial Partai Gerindra terkait tragedi siswa Sekolah Dasar di Kabupaten Ngada menuai kritik tajam dari berbagai kalangan.
Kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Jhon Sitorus turut menyampaikan kecaman terhadap respons yang dianggap kurang sensitif tersebut.
Jhon Sitorus melalui akun X @jhon_sitorus mempertanyakan keseriusan partai pemerintah dalam merespons peristiwa tragis tersebut.
“Ini serius partai seperti @Gerindra responnya begini? Bukankah komentar partai di media sosial adalah representasi Ketua Umumnya? Pendidikan politik seperti apa yang sedang dipertontonkan oleh partai penguasa kepada khalayak?” tulisnya.
Pernyataan tersebut menyoroti bahwa setiap respons di platform digital dari akun resmi partai politik seharusnya mencerminkan nilai dan sikap pimpinan tertingginya.
Akun resmi Gerindra sebelumnya memberikan balasan terhadap komentar seorang warganet yang menyinggung tragedi tersebut.
Warganet tersebut menuliskan “Pake uang 17T buat gratiskan sekolah” di kolom komentar unggahan video milik Gerindra.
Admin akun partai membalas dengan kalimat “Apa sih anak abah? Sudah ada sekolah rakyat, RT juga harus peka” yang kemudian menjadi perbincangan luas.
Balasan tersebut meski telah dihapus namun sempat terviralkan dan memicu penilaian publik mengenai tingkat empati yang ditunjukkan.
Banyak warganet menilai komentar tersebut kurang menunjukkan kepedulian terhadap korban dan keluarga yang sedang berduka.
Tragedi yang menimpa siswa kelas IV SD itu terjadi pada akhir Januari 2026 dengan korban ditemukan meninggal di kebun keluarga.
Diduga kuat tekanan sosial dan keterbatasan ekonomi menjadi faktor pendorong tindakan nekat yang dilakukan anak tersebut.
Kritik Jhon Sitorus menekankan bahwa setiap pernyataan dari akun resmi partai merupakan representasi langsung dari pimpinan partai tersebut.
Ia mempertanyakan bentuk pendidikan politik yang ditunjukkan oleh partai penguasa di hadapan masyarakat luas.
Respons dari partai politik dinilai harus lebih memperhatikan nilai empati dan etika komunikasi terutama dalam isu sensitif.
Peristiwa ini memicu perdebatan yang cukup luas di berbagai platform media sosial di Indonesia.
Banyak warganet menyuarakan bahwa partai politik seharusnya menggunakan media sosial untuk edukasi dan dukungan sosial.
Penggunaan platform digital diharapkan tidak hanya untuk komentar yang berpotensi dianggap provokatif atau kurang sensitif.
Tragedi siswa SD tersebut terjadi di Desa Jerebuu yang terletak di Kecamatan Ngada pada tanggal 29 Januari 2026.
Korban berinisial YBR berusia sepuluh tahun ditemukan meninggal dunia dengan cara gantung diri di area kebun milik keluarganya.
Motif awal diduga karena kekecewaan tidak bisa mendapatkan buku dan pulpen untuk kebutuhan sekolah meski penyelidikan masih berlangsung.
Peristiwa ini menyoroti isu kesehatan mental dan tekanan psikologis pada anak-anak di tengah keterbatasan ekonomi.
Kondisi sosial ekonomi keluarga di wilayah Nusa Tenggara Timur turut menjadi perhatian publik pasca kejadian tersebut.
Tragedi ini mengingatkan semua pihak mengenai pentingnya sistem dukungan psikososial bagi anak-anak di seluruh Indonesia.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

