
Repelita New York - Dokumen yang terkait dengan Jeffrey Epstein mengungkapkan kompleksitas jaringan yang melampaui skandal seksual semata.
Fragmen dalam berkas tersebut menunjukkan ambisi geopolitik Epstein yang mencakup upaya untuk menyentuh pusaran kekuasaan di Rusia.
Salah satu catatan mengungkap rekomendasi dari Boris Nikolic agar Epstein bertemu dengan Ilya Ponomarev, mantan anggota Duma Rusia yang kini berada di pengasingan di Ukraina.
Rekomendasi ini bertujuan agar Epstein dapat memberikan bantuan kepada Ponomarev yang dikenal sebagai penyelenggara gerakan oposisi terhadap Vladimir Putin.
Upaya untuk menjatuhkan Putin dari luar negeri selalu terbentur pada realitas konsolidasi kekuasaan yang kokoh di Moskow.
Kekuasaan Putin didukung oleh aparatus keamanan, militer, dan basis politik yang solid serta sulit digoyahkan dari luar.
Jika memang ada skema yang dirancang, hal itu berakhir sebagai catatan kaki yang gagal dalam tumpukan berkas kasus tersebut.
Epstein tampaknya lebih berperan sebagai pemburu akses daripada sebagai aset yang dikendalikan oleh kekuatan asing tertentu.
Ia aktif mencari cara untuk mendekati Putin melalui jaringan kontaknya, termasuk mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak.
Tujuannya adalah menawarkan skema finansial kepada lingkaran kekuasaan Rusia, bukan menerima perintah atau arahan dari mereka.
Narasi konspirasi yang mencoba mengaitkan Epstein dengan intelijen Rusia dinilai rapuh ketika berhadapan dengan fakta-fakta yang ada.
Bukti dalam dokumen justru menunjukkan hubungan yang lebih substantif dengan intelijen Israel melalui Ghislaine Maxwell.
Maxwell merupakan putri dari Robert Maxwell yang disebut-sebut memiliki keterkaitan dengan dinas intelijen Israel Mossad.
Upaya mengalihkan isu dengan mengaitkan Epstein ke Rusia dinilai sebagai refleksi kepanikan elit yang ingin menyembunyikan borok mereka sendiri.
Resonansi skandal ini justru lebih keras terdengar di koridor kekuasaan negara-negara Barat daripada di Rusia.
Di Amerika Serikat, tidak ada pertanggungjawaban hukum yang berarti terhadap rekan-rekan tingkat tinggi Epstein yang terlibat.
Sementara di Inggris, karir politik Peter Mandelson runtuh akibat hubungannya dengan Epstein meski media kurang menyoroti hal ini.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengejek narasi yang mencoba menghubungkan Epstein dengan negaranya.
Ia menyatakan bahwa ketika bukti kejahatan pemimpin Barat bertebaran, mereka justru sibuk membahas hantu Rusia yang tidak ada.
Pemimpin Minoritas Senat AS Chuck Schumer menegaskan bahwa Amerika tidak akan bisa melupakan skandal Epstein sebelum seluruh dokumen dirilis.
Dalam pidatonya di Senat pada Rabu (4/2), Schumer menyatakan bahwa kebenaran sepenuhnya merupakan syarat mutlak untuk bergerak maju.
Pernyataan ini merupakan respons terhadap sikap Presiden Donald Trump yang menyarankan agar publik mengakhiri pembahasan kasus ini.
Schumer menyebut jutaan dokumen masih terselubung dan mempertanyakan informasi apa yang sengaja disembunyikan dari masyarakat.
Ia juga menuding Departemen Kehakiman telah kehilangan independensinya dan hanya berfungsi sebagai alat politik Presiden Trump.
Jeffrey Epstein ditemukan tewas di sel penjara New York pada tahun 2019 saat menunggu persidangan atas tuduhan perdagangan seks anak.
Meski sejumlah dokumen telah dirilis, Schumer meyakini bahwa fakta sebenarnya masih jauh dari apa yang telah diungkapkan kepada publik.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

